Mengais "Emas" di Bukit Semarong
21-22 Desember 2012
21-22 Desember 2012
Sebutan
lain untuk Binua Landak adalah kota intan…emas dan intan banyak terkandung di
daerah ini. Tidak heran penjelajah luar negeri dari dulu sudah mengeksplor
tempat ini untuk dijadikan pertambangan serupa Freeport… beberapa kejadian
rejeki nomplok dari hasil “dompeng” emas atau intan oleh masyarakat cukup
membuat kita “ngiler” bin iri nan terperangah. Bagaimana tidak heran dengan
penemuan intan berkarat tinggi yang terjual dengan harga “M” atau bahkan
bernilai “T” sampai bisa beli jeep “hummer” waaaaaahhhh.
Atas dasar itulah…cerita dari
rekan kami bahwa dulu tempat tersebut banyak didatangi orang asing, dan
terdapat helipad disana…bahkan konon ada 2 orang masuk gua tersebut namun yang
kembali hanya satu….kabarnya satu orang yang lain tersesat dan goa itu menuju tempat
lain di sungai Kapuas…
Goa
inilah yang menjadi obyek khayalan dan motivasi kami.
Jauh-jauh hari kami sudah
mempersiapkan diri untuk ekspedisi ini untuk mencegah hal-hal yang tidak
diinginkan seperti “kanibalisme”, vertical rescue, surat administrasi, surat
kuasa dan pembagian harta yang adil.
Konon orang melakukan apapun
untuk emas, termasuk hal licik terhadap temannya. Kami sepakat untuk tidak
membawa kecap agar bila dalam keadaan survival orang tersebut tidak akan meng ”kecapin”
temannya yang lagi tidur digoa kemudian menyantapnya, terus emasnya dibawa
kabur. Masuk goa ber sembilan, yang keluar goa hanya 1 wahhhhhhh.
Toko adventure di ngabang kala
itu menjadi laku keras lantaran tim ini membeli perlengkapan penunjang, dan
senyum lebar menghiasi penjual toko….Perencanaan ekspedisi itu sendiri
merupakan salah satu bagian yang tak kalah asyiknya dengan petualangan itu
sendiri.
Tim
ini berjumlah 9 yaitu:Yudi, Setiadi, Hendro, Fred, Yeremia,Irmawan,Nelson,
Dodi, dan kandi
Kami
berangkat pagi-pagi menuju desa Jangkang lewat simpang di dusun Peruan Dalam
Kabupaten Sanggau….yang menjadi rumah orangtua rekan kami Yeremia.
Tiba di sana siang, rehat dan
makan-makan sebentar kami packing dan menuju area perbukitan yang sudah
ditanami sawit. Pemandu kami adalah paman dari rekan kami. Jalan yang dilewati
cukup jauh dan menantang karena kami di pertengahan perjalanan harus memutar
punggungan bukit, menyusuri sungai dan riam kecil.
Kami
juga sempat berfoto di monumen ekspedisi dari rusia tahun 1976.
Kondisi
fisik cukup lelah lantaran bermotor dan berjalan.
Sekira
sore hari setelah menempuh 3 jam berjalan kami tiba di depan goa yang dimaksud.
Segera pasang tenda dome dan
bivak dari terpal dan mempersiapkan penerangan dan logistic. Tidak lama kami
diterpa hujan cukup deras, sehingga kami tdk banyak melakukan aktivitas malam
itu. Meringkuk dalam tenda, menimba air yang masuk ketenda dan berandai-andai
apabila saat kita tidur ular besar keluar dari goa itu dan menelan kita satu
persatu. Alhasil malam itu begitu pannnjaaaaaangggg.
Tak lupa parang dan senjata
tajam dan senapan angin asyik meringkuk di samping kami untuk berjaga-jaga.
Syukurnya ditempat antah berantah itu sinyal cukup kuat dan beberapa rekan
asyik untuk online. Bahagia di atas penderitaan orang lain….nelangsa….
Satu kejadian yang menjadi “aib”
adalah salah satu rekan kami yang buang hajat tidak jauh dari tenda kami.
Tepatnya di atas tenda kami, alhasil ketika air hujan mengguyur bukit itu dari
atas maka “barang” itu disinyalir juga melintasi lokasi tenda ini. Untungnya
kami pada kedinginan dan pilek sehingga tidak mencium bau yang tidak-tidak.
Keesokan harinya pagi-pagi kami
sudah membuat api untuk masak dan mengeringkan kain yang basah oleh hujan yang
turun semalaman. Setelah siap kami packing perlengkapan susur goa/ caving. Dengan
tali raffia merah menjadi panduan kami agar tidak salah memilih jalan di dalam
goa.
Ternyata…
Goa tersebut bukanlah goa yang
dimaksud. Goa itu cukup pendek dan melingkar sehingga dibeberapa cekungan tidak
terlihat jalan keluar. Panjang goa sekira 10 meter dengan mulut goa vertical
sekira 2 meter.
Setelah
berdiskusi kami memutuskan untuk keluar goa dan packing pulang.
Suatu
misteri bagi kami untuk suatu hari nanti menemukan goa ini. Dengan pemandu yang
berpengalaman dan tahu lokasi dengan tepat.
Walaupun ekspedisi ini gagal
kami gembira karena banyak kejadian konyol yang terjadi. Dan itu menjadi
kenangan masing-masing kami untuk kelak diceritakan ke anak cucu dan cicit. Kami
pulang dengan cukup cepat dan berfoto ria di perbukitan semarong. Kegagalan
membuat kita sadar, siapa kita…dihadapanNya.
Terima kasih untuk kebersamaan
di dinginnya hujan, basahnya tenda dome, menimba vs online, menabung “emas
kuning”, “teriakan kopi satu”, pelukan pohon tambatan, joran pancing tak terpakai,
senapan angin tak bertaji, tali raffia merah tak berujung, pamali takabur, tahi
kelelawar, emas impian…dan andai ahhhh
ahhhh ku jadi orang kaya …(#oppieandaresta)
https://sites.google.com/site/makedoniadventures/
https://sites.google.com/site/makedoniadventures/








Wahaha....dadi geli aku macane. Persiapan adventure paling spektakuler dalam sejarah Makedonia Adventure...wkkwk
BalasHapusHahaha Aslieeeee paling gokil,teriakan kopi satu.....
BalasHapusKeren bang, klo boleh tau Tripnya lewat mana bang..
BalasHapusBaca aja resume perjalanannya....ada no WA
Hapus