Menjamur
di Bukit Jamur
(13-15 Februari 2015)
Destinasi
kami kali ini adalah bukit yang cukup terkenal sebagai obyek wisata di daerah
bengkayang.
Kami
cukup banyak berjumlah 16 orang yaitu Setiadi, anaknya David, Yasonta, Yeremia,
Kandi, Yudi, Trianto, Wiwit, John Wesly, John Nelson, Hendro, Melkisedek,
Reinaldi, Ronald, Fred, dan Dedi.
Perjalanan
ke bengkayang berkisar 3 jam bermotor dari Ngabang via Darit. Bila sudah tiba
di kota Bengkayang, kita ambil arah ke kiri dan tiba di simpang empat ambil jalan
kekiri dan ikuti jalan itu sampai ada petunjuk jalan. Kita juga melewati
jembatan gantung sebagai tandanya. Cukup mudah dan jangan khawatir tersesat.
Bila
sudah sampai penitipan motor dan helm kita akan didata dan menitipkan motor
kita.
Pengelolaan
sudah cukup bagus terutama dalam hal meningkatkan pendapatan masyarakat
sekitar.
Perjalanan
ke bukit hanya 2 jam cocok bagi pemula dan keluarga yang membawa anak kecil.
Seperti
rekan kami yang membawa anaknya. Selain untuk menularkan jiwa petualangan tentu
kita bisa menularkan (baca: menitipkan) barang-barang kita kepadanya apabila
kita karena faktor “Usia” sudah mulai berkunang-kunang alias oyoh bin penat.
Rekan
kami sudah mempraktikkannya dan berhasil.
Tanjakan
paling berat adalah setengah jam menuju puncak, cukup tinggi dan harus memiliki
manajemen pernafasan yang baik. Bebatuan besar menyambut kami di puncak,
setelah itu baru jalan setapak menuju puncak yang ditandai dengan bendera merah
putih besar. Sempat kami bertemu dengan anggota Pramuka dari salah satu SMA
Bengkayang, dimana mereka secara rutin naik ke bukit Jamur untuk kerja bakti.
Acungan jempol untuk mereka. Disaat bisa bersenang-senang, mereka justru
membaktikan kerja mereka tanpa dibayar untuk menjaga kebersihan lokasi ini. Mudah-mudahan
selain sekolah ini, penggiat organisasi kepemudaan tidak hanya di Bengkayang
juga memiliki kepedulian yang sama.
Lokasi
perkemahan merupakan punggungan buki yang memiliki dataran yang cukup luas. Seperti
gunung Prau di Wonosobo dan bukit Panderman di Batu Malang. Beberapa tempat
sudah terpasang tenda permanen yang mungkin disewakan dan beberapa areal tanah
yang sudah diratakan. Kantin pun sudah ada ditempat ini bila kita memerlukan
sesuatu.
Kami
memilih lokasi tenda dekat bendera Merah Putih karena cukup rindang dan
memiliki pemandangan yang cukup bagus.
View
yang bisa kita dapatkan adalah dataran rendah di kota bengkayang, Gunung Bawang
dan beberapa bukit dikejauhan. Bila beruntung kita bisa melihat awan kinton/ cumulus
di bawah kita.
Lokasi
sumber air ada dua yaitu di dalam hutan dan di lereng bukit dekat lokasi
perkemahan bagian tengah.
Karena
hari valentine, malam itu cukup meriah tapi juga menurut kabar memang tiap
weekend tempat ini banyak dikunjungi muda-mudi dengan motivasi yang
berbeda-beda.
Bila
Sabtu sore bisa dipastikan puluhan tenda dome dan semacamnya sudah terpasang
untuk menyambut malam mingguan yang benar-benar panjang.
Saran
saya, bagi yang mencari ketenangan sebaiknya mengambil waktu selain weekend. Karena
bisa dipastikan kita tidak bisa tidur nyenyak semalaman.
Pendaki
pemula ini biasanya tidak menetap lama dan mendaki sore hari menginap semalam
dan besok pagi pulang.
Mudah-mudahan
tempat ini tidak disalah fungsikan dan itu tentu membutuhkan kepedulian kita
semua.
Tentu
kalau sudah berkeluarga lain lagi ceritanya.
Ranger/jagawana
dari organisasi kepemudaan perlu ditugaskan di area ini untuk menjaga
kebersihan , ketertiban dan keamanan.
Kami
pulang melalui jalan lain yaitu perosotan selama 40 menit karena turunan yang
nyaris tidak ada terasiring sehingga kita meluncur saja. Sebaiknya jangan
memakai sandal atau sepatu yang tidak memiliki grip.
Bila lewat jalan ini kita
bisa menghemat waktu dan juga merasakan sensasi perjalanan yang lain.





















































