Rabu, 18 November 2015

Riam Unga-Bedawat #1
Petualangan itu bermula…
31 Januari-2 Februari 2014


Petualangan eksplorasi Riam Unga-Bedawat kala itu sebatas sebuah impian. Bermula dari perbincangan ringan tentang beberapa air terjun di Serimbu dengan Hedi, rekan adik kami.


Semula air terjun 7 tingkat Terinting adalah lokasi yang dipilih, namun karena kurang informasi maka impian itu diarahkan ke Bedawat. Unga masih belum terpikir dan merasakan Bedawat saja sudah cukup.

Saya memutuskan pergi sendiri ke Serimbu dan bertemu dengan tim di sana.



Tim dari Serimbu adalah Hedi, Hendra, dan 2 temannya.
Ngabang-Serimbu-Dange Aji-Bedawat. Itulah jalur yang akan dilewati.
Kesan pertama menginjakkan Ds. Dange Aji adalah sungainya yang jernih. Saya memaklumi keadaan desa yang belum bisa dibilang bersih karena sosialisasi yang ajeg dari pihak-pihak yang berkompeten.

Saya juga sempat melihat burung Kuku’ atau enggang KW2 yang berjambul, namun masih satu famili dengan Enggang. Burung ini masih anakan dan mau dijual dengan harga 300.000, saya tawar 200.000 tidak bergeming. Jadi saya hanya puas melihatnya diluar kandang. Kelak, saya akhirnya tahu bahwa anak burung itu mati. Ya, pantas karena cukup susah pelihara burung ini, karena pada dasarnya harus makan biji-bijian bukan nasi.


Kalau flashback ke petualangan yang ini, saya memang banyak membawa barang yang tidak efektif seperti sepatu (percuma karena kita akan melalui perairan), dan matras.
Kami pergi siang dan sampai sore harinya.
Petualangan yang satu ini saya benar-benar dimanjakan secara makanan. Karena kami berpisah tim, tim darat dan tim air. Saya di tim darat sedangkan yang lain tim air yang berjalan menyusuri sungai kea rah hulu sampai menebar jaring. Bisa bayangkan saja kami membawa 22 pukat, betapa beratnya mereka membawanya di jarai. Namun saya salut, karena terbiasa mereka begitu seimbang berjalan dan melompati tiap batu dengan cepat dan tepat, zero mistakes. Bawaan yang berat tidak menghalangi kecepatan mereka menyeberangi sungai.

Hasilnya ketika tim darat tiba di basecamp, tak lama tim air pun tiba dengan membawa jaring penuh ikan…wooooowwwww.
Saya di jawa belum pernah melihat ikan sungai se “fresh” ini secara langsung.
Lauk yang sepadan dengan perjuangan maha berat. Saya cukup menjadi “anak bawang” saja di petualangan yang satu ini. Menjadi penunggu api dan tenda. Spesialisasi mereka penyelam, penebar jala dan pukat.



Telur ikan...yummmyyyyyyy...



Hutan tua, Pacet, Enggang, dan ke-eksotisan Bedawat begitu membius saya. Ya,inilah yang saya harapkan dari bumi Kalimantan barat ini, sesuatu yang serasa memudar.
Hari kedua kami mendaki ke hulu menuju unga, walaupun cukup jauh menuju tingkat yang lebih dekat. Namun dari jauh memang kelihatan air terjun ini begitu langsing dan tinggi (10 tingkat bervariasi).



Tak lama sambil membawa ikan tangkapan jaring, salah satunya sejenis Ampala atau tangis (sebutan orang setempat) yang sebesar paha.
Karena begitu berlebih ikan yang kami dapat, sebagian ikan kami asap-i atau di salai.

Tentu sebelumnya agar tidak membusuk, ikan itu digarami, ditaruh di karung dan digantung di pohon agar terhindar dari binatang liar.



Satu pesan saya untuk rekan-rekan di awal perjalanan kami adalah bahwa sampah plastic seharusnya haram dibuang sembarangan di tempat-tempat yang eksotis ini. Ya, tentu karena tidak akan ada orang yang peduli dengan sampah orang lain. Kalau tidak dimulai dari kita, tentu ini akan menjadi domino, berantai, turun-temurun dan kelak bila generasi ke tujuh kita menggali tanah tentu sampah plastic ini tetap abadi kemudian generasi itu pun me”nyumpahi” kita nenek moyangnya sebagai orang yang tidak beradat.

Kami pulang dengan membawa masing-masing 1 kiloan ikan untuk keluarga tercinta dirumah.






Terima kasih Tuhan, alam, dan teman seperjuangan.
Sadar, kunjungan saya yang pertama ini hanya sebagai penikmat alam saja. Saya berjanji akan kembali dengan rekan yang lain untuk membayar hutang dan berbuat banyak membalas pemberian alam bagi saya secara materi maupun spiritual.
Kapan kita kemana? Let’s go wild (again).





Tidak ada komentar:

Posting Komentar