Riam Unga-Bedawat #1
Petualangan itu bermula…
31 Januari-2 Februari 2014
31 Januari-2 Februari 2014
Petualangan eksplorasi Riam Unga-Bedawat kala itu
sebatas sebuah impian. Bermula dari perbincangan ringan tentang beberapa air
terjun di Serimbu dengan Hedi, rekan adik kami.
Semula air terjun 7 tingkat Terinting adalah lokasi yang dipilih, namun
karena kurang informasi maka impian itu diarahkan ke Bedawat. Unga masih belum
terpikir dan merasakan Bedawat saja sudah cukup.
Saya memutuskan pergi sendiri ke Serimbu dan
bertemu dengan tim di sana.
Tim dari Serimbu adalah Hedi, Hendra, dan 2
temannya.
Ngabang-Serimbu-Dange Aji-Bedawat. Itulah jalur
yang akan dilewati.
Kesan pertama menginjakkan Ds. Dange Aji adalah sungainya
yang jernih. Saya memaklumi keadaan desa yang belum bisa dibilang bersih karena
sosialisasi yang ajeg dari pihak-pihak yang berkompeten.
Saya juga sempat melihat burung Kuku’ atau enggang
KW2 yang berjambul, namun masih satu famili dengan Enggang. Burung ini
masih anakan dan mau dijual dengan harga 300.000, saya tawar 200.000 tidak
bergeming. Jadi saya hanya puas melihatnya diluar kandang. Kelak, saya akhirnya
tahu bahwa anak burung itu mati. Ya, pantas karena cukup susah pelihara burung
ini, karena pada dasarnya harus makan biji-bijian bukan nasi.
Kalau flashback ke petualangan yang ini, saya
memang banyak membawa barang yang tidak efektif seperti sepatu (percuma karena
kita akan melalui perairan), dan matras.
Kami pergi siang dan sampai sore harinya.
Petualangan yang satu ini saya benar-benar
dimanjakan secara makanan. Karena kami berpisah tim, tim darat dan tim air. Saya
di tim darat sedangkan yang lain tim air yang berjalan menyusuri sungai kea rah
hulu sampai menebar jaring. Bisa bayangkan saja kami membawa 22 pukat, betapa
beratnya mereka membawanya di jarai. Namun saya salut, karena terbiasa mereka
begitu seimbang berjalan dan melompati tiap batu dengan cepat dan tepat, zero
mistakes. Bawaan yang berat tidak menghalangi kecepatan mereka menyeberangi
sungai.
Hasilnya ketika tim darat tiba di basecamp, tak
lama tim air pun tiba dengan membawa jaring penuh ikan…wooooowwwww.
Saya di jawa belum pernah melihat ikan sungai se “fresh”
ini secara langsung.
Lauk yang sepadan dengan perjuangan maha berat. Saya
cukup menjadi “anak bawang” saja di petualangan yang satu ini. Menjadi penunggu
api dan tenda. Spesialisasi mereka penyelam, penebar jala dan pukat.
Telur ikan...yummmyyyyyyy...
Hutan tua, Pacet, Enggang, dan ke-eksotisan Bedawat
begitu membius saya. Ya,inilah yang saya harapkan dari bumi Kalimantan barat
ini, sesuatu yang serasa memudar.
Hari kedua kami mendaki ke hulu menuju unga,
walaupun cukup jauh menuju tingkat yang lebih dekat. Namun dari jauh memang
kelihatan air terjun ini begitu langsing dan tinggi (10 tingkat bervariasi).
Tak lama sambil membawa ikan tangkapan jaring, salah
satunya sejenis Ampala atau tangis (sebutan orang setempat) yang sebesar paha.
Karena begitu berlebih ikan yang kami dapat,
sebagian ikan kami asap-i atau di salai.
Tentu sebelumnya agar tidak membusuk, ikan itu
digarami, ditaruh di karung dan digantung di pohon agar terhindar dari binatang
liar.
Satu pesan saya untuk rekan-rekan di awal
perjalanan kami adalah bahwa sampah plastic seharusnya haram dibuang
sembarangan di tempat-tempat yang eksotis ini. Ya, tentu karena tidak akan ada
orang yang peduli dengan sampah orang lain. Kalau tidak dimulai dari kita,
tentu ini akan menjadi domino, berantai, turun-temurun dan kelak bila generasi
ke tujuh kita menggali tanah tentu sampah plastic ini tetap abadi kemudian
generasi itu pun me”nyumpahi” kita nenek moyangnya sebagai orang yang tidak
beradat.
Kami pulang dengan membawa masing-masing 1 kiloan
ikan untuk keluarga tercinta dirumah.
Terima kasih Tuhan, alam, dan teman seperjuangan.
Sadar, kunjungan saya yang pertama ini hanya
sebagai penikmat alam saja. Saya berjanji akan kembali dengan rekan yang lain
untuk membayar hutang dan berbuat banyak membalas pemberian alam bagi saya
secara materi maupun spiritual.
Kapan kita kemana? Let’s go wild (again).




















Tidak ada komentar:
Posting Komentar