Kamis, 14 April 2016

Lemukutan...


Kenangan Tak Terhingga



*Lemukutan Island is a paradise island for diving assorted coral reefs in West Kalimantan*
Yahhhh... begitulah keindahan alam yang saya bayangkan sebelum berkunjung di tempat ini





pulau ini merupakan salah satu wisata yang boleh mempertegas kebersamaan kami selama 4 hari ini....
sebelum mengutip rangkaian kata lebih lanjut, lebih spesifiknya untuk postingan kali ini adalah  kebersamaan *tabhitaCrew* menikmati keindahan alam di pulau ini.
perjalanan dari teluk suak menuju Teluk Surau menggunakan kapal Mini dan disambut oleh Motor speed miliknya pak Asmadi, Kamipun disediakan penginapan secara eksklusif oleh tuan rumah bapak kite ASMADI. yaitu Villa Herva...



 selama berada di pulau ini, kami menikmati berbagai keindahan alam teluk surau.....
pesisir pantai yang dikelilingi oleh tepian batu yang tidak teratur, namun elok dipandang mata...
airnya yg jernih, seakan akan ingin tenggelam bersama para ikan di pulau ini... 



dicium oleh ikan inipun saya relaaaaaa



okeeeeeehhhh... stopped...

DAY 1

tiba di pulau menikmati pesisir batu dan memandang terumbu karang dari kejauhan....

cuaca yg sangat cocok utk diving (seharusnya) karena ombak yang tenang, namun kami lebih memilih berfoto di sekitar penginapan, karena kami berpikir mungkin besoknya lebih puas utk menyelam sambil menikmati terumbu karang.
menjelang malam, kami mempersiapkan diri untuk barbeque bersama mereka... (Dayen,Hana,Pedrin,Novita, Merys) 

daaaannnnnn tak lupa jga dengan koki ini... sii Erwin, nemu dari penginapan lemukutan...



tqyu yahh... tanpa koki kami butiran debu..
dan kamipun kembali di tempat peraduan pulau kapuk.

Day 2
Terbangun dan mendadak shock....
ternyata gelombang laut tinggi, dan pak Asmadi melarang kami menyelam di sekitar pantai....
dan kamipun harus sabar menunggu tim dari pontianak...
penyesalan memang selalu datang tanpa diharapkan, namun cuaca tak bisa kembali seperti kemarin... begitu juga perasaan yang mengharuskan memposting perjalanan 4 hari ini. 
Pukul 3 sore, kamipun berangkat menuju arah barat melalui jalur darat dengan mendaki gunung dan melewati lembah... (Ninja Hatori)


 mesti nyaris tersesat kamipun tetap memberanikan diri utk tetap melangkah... kamipun tiba di pesisir pantai sebelah barat...



 dan sudah saatnya utk snorkling, semangat sudah di depan mata... ternyata, satupun dari mereka tidak ada yang berani menyelam... 
next..... kamipun hanya selfie di tepi pantai menggunakan diving mask dengan perlengkapan minim, ada juga yang main sampan2an... (sedikit kecewa siiiii)
namun, kekecewaanpun akhirnya sirna setelah salah satu personil budak ponti ngajak nyelam menikmati keindahan terumbu karang (menurut saya itu batu yang tak berwarna dan tak elok) dan kitapun menyelam bersama.....
sayangnya saya tidak sempat berkenalan....
setelah puas diving dan berselfie ria (katenyeeeee)
kami pulang naik sampan, dan setengah perjalanan kami harus turun lagi karena kondisi gelombang besar yang menakutkan, instruktur (Pak Asmadi) menyarankan kami pulang menyusuri tepian pantai batu bersama tim lainnya...
kamipun tiba di penginapan pukul 19.00 lewat sikiiit...

Day 3
Gelombang sangat tinggi, seharusnya kami pulang hari ini....
karena kondisi yg tidak memungkinkan, kami harus menginap lagi...
galauuuuuuuuuuuuu cuy.... sementara besok kami harus lanjut kerja.. (maklum Cekgu) kami ini guru lohhhh..
ternyata, tak hanya kami yang mengalami nasip serupa...
ada juga tim dari Pontianak beserta keluarga juga yang mengharuskan menetap di pulau ini.
wasting time itu memang menyakitkan sekali, seolah waktu yang sia2 membunuh secara perlahan...
pulau yang indah nan eksotis seperti tempat yang kelam saat itu juga.
ditengah suasana yang kelam, kamipun mencoba mengisi waktu yang kelam (wasting time) dengan permainan konsentrasi, bersama teman baru kami dari Alumni STAN yg sedang bertugas Di Dirjen kementrian Keuangan Provinsi
"Konsentrasi Dimulai"
Abhi,Aga,Dei,Rama,Valent...



Menjelang petang... kami menikmati senja dengan mempersiapkan barbeque ke dua di bantu oleh pengunjung yang baru datang di penginapannya pak Asmadi... dan malam harinya kami Dinner bersama para Tabhita...
meski ikan bakarnya tak seenak racikannya si Erwin, setidaknya kami tidak mati kelaparan di pulau Lemukutan ini.

Day 4
Bangun sepagi2nya... dan berhasil mengabadikan terbitnya sang Mentari ......
Hana Dul Se dan Abhi Kushi Ka Bhi Gham




setelah mengisi kampung tengah, kamipun bersiap2 untuk pulang dan SAYONARA dengan para pengunjung lainnya....
Pulang dan kembali selamat meski gelombang, hujan, badai menerpa...


yaaaaaahhhhhh... begitulah pelarian 4 hari yang kami lakukan di pulau lemukutan dan terdampar bersama para pengunjung yang awalnya kita tidak saling mengenal,
Ayo Tabhita... kapan lagi kita kemana....
semoga perjalanan 4 hari ini, akan selalu kita kenang meski kita berpisah dan tak bertatap muka lagi.
Hana


 Merysna

 Dayen

 Pedrina

 Novita




















Hutan Bakau........!!!!








Berpetualanglah di negerimu sendiri, nanti kau akan tau dan bangga kalau Indonesia itu indah dari apapun. alam Indonesia akan indah kalo kamu tau cara menikmatinya. menikmati tanpa merusak, mensyukuri dan menjaga....


jadilah Adventures dan Traveler yang bijak.... pecinta alam, bukan hanya penikmat alam....
Salam dari Gueeeeeeh
Writer : Hana
Editor : Intang Rames, Alvius T.
Penerjemah : Google Translate.... (kalo ada bahasa Ndesoooo, tinggal Klik aja yahhh.
dipersembahkan untuk: Tabhita Crew

Selasa, 29 Maret 2016

The Three Mas Kenthirs (3 Pria Gila) #2
Air Terjun Terintik (25-26 Maret 2016)



        Menikmati petualangan di alam bersama teman-teman memberi warna lain pada petualangan itu sendiri. Kebersamaan tentu menjadi ujian dalam sebuah perjalanan. Berorientasi pada tim, keterbukaan, ketaatan pada keputusan bersama, sekaligus menempatkan toleransi dan fleksibilitas pada saat yang tepat perlu dilatih melalui petualangan.



        Petualangan 3 pria kali ini masih ke sorganya penampung air di hutan Serimbu, Kab, Landak, Kalbar.
Bagi saya pribadi, air terjun yang satu ini adalah impian pertama saya dulu bila ke Serimbu. Akhirnya moment itu baru tiba sekarang setelah beberapa air terjun dikunjungi.
        Tepat bersamaan dengan momen hari Hutan sedunia 21 Maret 2016 (Forest Day 2016) yang mengambil tema “Forests And Water”. Menekankan betapa pentingnya dataran tinggi terkhusus hutan sebagai penampung air sekaligus penyaring air alami dan menyediakan udara bersih. Hutan menyediakan 75% air segar yang kita gunakan setiap hari.
        Kami bertiga (Hendro, Melkisedek, dan Triko) berangkat dari rumah dinas Sekolah Kristen Makedonia pukul 05.30 pagi dan tiba di Serimbu pukul 07.30 untuk bertemu dengan guide kami bang Wito. Ia juga mengajak saudaranya Antung, Otoh, Kudim serta Amimo yang menyusul kami di tengah jalan.

        Perjalanan kami dimulai dari rumah bang Wito di Jambu balai menuju ke tempat parkir motor di perkebunan sawit di dataran tinggi yang bisa ditempuh selama 20 menit. Setelah jembatan gantung ada persimpangan (yang lurus ke Denge Aji sedangkan ke kanan ke perkebunan sawit). Pilih kanan.

        Setelah parkir motor di tempat tersembunyi kami mulai perjalanan jam 9.30 pagi.

        Melintasi sekitar 7 sungai kecil yang jernih dan juga persimpangan jalan yang kadang membingungkan. Rencana akan membuat peta perjalanan dengan bantuan kompas, ternyata bang Wito membawa GPS.  Akhirnya yang kuno mundur teratur.

        Situasi perjalanan mirip kondisi perjalanan ke air terjun Bedawat dan Unga. Menyusuri pinggiran sungai dan sekali-kali melintas sungai kecil. Belum ada tanjakan yang menguras stamina.

Beberapa kali kami beristirahat di jalan sebelum sampai ke pos Pondok kayu yang merupakan tempat menginap para pemotong kayu pukul 11.30.




        Di pos ini kita sudah bisa melihat air terjun Terintik di kejauhan yang membelah ketinggian bukit dari atas ke bawah. Cukup tinggi.
Sekira 50 meter dari puncak air terjun sebelah kiri ada sebuah gua di tebing yang menurut rekan kami di situ belum belum pernah ada yang masuk ke goa tersebut karena terletak di tebing.
        Menyempatkan makan, beristirahat, dan mandi di sungai maka pukul 1 siang kami lanjut perjalanan menuju tingkat 5 yang memutari perbukitan di sebelah kiri air terjun. Target durasi perjalanan adalah 2 jam.
        Trek setelah pos ini didominasi dengan trek menanjak. Bila anda ingin ke air terjun ini jangan khawatir dengan komunikasi karena tidak perlu membawa HT karena sinyal HP cukup tersedia walaupun bukan 3G. Guide kami sangat baik sekali dan sangat tanggap bila kami sudah sempoyongan dengan “tas keril” kami. Selepas beberapa tanjakan kami menyerahkan keril kami pada mereka.


        Sebelum sampai ke pinggiran air terjun tingkat ke 5 ini kita akan disuguhi hutan yang rindang dengan pohon tinggi dan tebing-tebing menjulang. Kami tiba di lokasi pukul 3 sore. Cukup sulit melihat air terjun di atas karena kita berada persis di belakang air terjun dan di samping tebing.     
   


Pemandangan yang kami dapat adalah pegunungan dan daerah Serimbu dari ketinggian ratusan meter. Keistimewaan lokasi tersebut adalah beberapa pohon cabai rawit yang tumbuh dan berbuah. 
Kami panen sebanyak 2 bungkus plastik 1 kiloan...lumayan untuk menambah selera makan....


Sayang, beberapa tulisan vandalis merusak tebing ini.

Penjara akar pohon...




Kami memutuskan melipir kembali turun satu tingkat untuk bermalam disitu.
        Tepat di samping tebing kami mendirikan 2 tenda dan 2 hammock. Berfoto ria dan mempersiapkan masak nasi di nesting dan mempersiapkan kayu bakar untuk perapian. Kompor Aladin ini masih berjasa menemani penantian rasa lapar kami. Cukup banyak “track record” nya.

        Setelah makan malam kami segera istirahat memulihkan tenaga kami. Bila di dalam tenda suhu cukup bersahabat karena tidak turun hujan.
Bila tidur diluar (hammock) harus waspada dengan suhu rendah di pagi hari dengan membawa matras sebagai alas hammock dan sleeping bag, kalau perlu flysheet di atasnya untuk menahan embun pagi.

        Hari berikutnya kami isi dengan kegiatan “parkour” di bebatuan menuruni aliran sungai ke arah hilir. 


Sesekali melipir ke daratan untuk mencari lokasi yang bagus. Bila turun kebawah sekitar 15 menit kita akan menemukan lokasi camp yang lebih bagus dengan alas tanah dedaunan yang empuk, rindang, dekat dengan air, dan spot memancing. Cukup untuk pasang 3 tenda dome dan beberapa hammock.
        Beberapa batu besar menjadi lokasi berfoto ria yang bagus dengan background air terjun. Karena air terjun ini cukup langsing menuruni tebing dari atas ke bawah dengan jarak tiap tingkat yang jauh, kita cukup kesulitan mendapatkan sudut pemandangan puncak air terjun  sampai beberapa ruas ke bawahnya yang cukup tinggi. Bila di foto bagian atas terlihat pendek, padahal tingginya 100an meter.
Tuhan Maha Kuasa…





       









Setelah mandi dan makan, kami packing dan bersiap turun karena logistik kami yang pas-pasan.
        Bila anda ke tempat ini kami sudah menyediakan buku tamu yang kami simpan dalam botol yang tertancap di pohon dekat tulisan “bakarlah sampah plastikmu”. Sayang saya lupa menyertakan alat tulis di dalamnya. Bila anda membawa alat tulis silahkan mengisi buku tamu tersebut.




        Jam 11 siang kami turun gunung. 2 lokasi lain kami menempelkan tulisan “jangan bunuh Enggang/ Ruai” serta “jangan coret batu”.







Bila menemukan pohon dengan daun seperti ini, jangan disentuh daunnya....gatallll menyengat....
Tiba di lokasi pondok kayu pukul 12 siang (1 jam perjalanan) dan menyantap makanan nasi dengan sayur perenggi, lauk tempe dan sambal cabai rawit. Sambil melihat air terjun Terintik di kejauhan, makanan ini serasa maknyuzzzz.


        Setelah mandi di sungai, kami berpamitan dengan warga pondok tersebut. Kami lanjut perjalanan pulang dari pukul 2 siang sampai lokasi parkir pukul 3 sore. Tiba di Sekolah Kristen Makedonia dalam keadaan selamat.



Refleksi:
ü  Bersyukur pada Tuhan untuk momen yang menginspirasi, cuaca yang bersahabat serta “safe trip” yang kami lalui.
ü  Bagi kabupaten Landak sendiri, keberadaan Serimbu sebagai dataran tinggi dengan wilayah hutannya menjadi tempat penting bagi kota dan warga kota Ngabang sebagai ibukota Kabupaten.
ü  Hilangnya hutan, rusaknya ekosistem (sampah plastik pendaki amatiran), serta punahnya satwa langka (Enggang, Ruai, dsb) sebagai indicator kegagalan semua pihak.
ü  Mudah-mudahan dinas terkait yang ada di Kab. Landak segera bergegas membuat parameter untuk melindungi hutan Serimbu dan ekosistem yang ada di dalamnya.
ü  Ide, gagasan, masterplan dari dinas terkait terhadap Hutan Serimbu harus bersinergi, saling mendukung dan tentu bekerja dengan “hati”.
ü  Kami sebagai pendaki juga terus belajar menjadi pendaki yang “SMART”, memberi yang terbaik untuk menjaga ekosistem dan terus memberi sosialisasi peduli lingkungan kepada orang-orang yang dekat kehidupannya dengan hutan.
ü  Mengutip tulisan bang Idin (pemenang Kalpataru) penyelamat Sungai Pesanggrahan di Jawa Barat, “Alam ini bukan warisan nenek moyang, tetapi titipan anak cucu kita… ”

Semoga kita tidak terlambat….
Salam lestari 290316

CP guide:
OTOH (085249824290)
WITO (085349372786)

Check these links: