Selasa, 29 Maret 2016

The Three Mas Kenthirs (3 Pria Gila) #2
Air Terjun Terintik (25-26 Maret 2016)



        Menikmati petualangan di alam bersama teman-teman memberi warna lain pada petualangan itu sendiri. Kebersamaan tentu menjadi ujian dalam sebuah perjalanan. Berorientasi pada tim, keterbukaan, ketaatan pada keputusan bersama, sekaligus menempatkan toleransi dan fleksibilitas pada saat yang tepat perlu dilatih melalui petualangan.



        Petualangan 3 pria kali ini masih ke sorganya penampung air di hutan Serimbu, Kab, Landak, Kalbar.
Bagi saya pribadi, air terjun yang satu ini adalah impian pertama saya dulu bila ke Serimbu. Akhirnya moment itu baru tiba sekarang setelah beberapa air terjun dikunjungi.
        Tepat bersamaan dengan momen hari Hutan sedunia 21 Maret 2016 (Forest Day 2016) yang mengambil tema “Forests And Water”. Menekankan betapa pentingnya dataran tinggi terkhusus hutan sebagai penampung air sekaligus penyaring air alami dan menyediakan udara bersih. Hutan menyediakan 75% air segar yang kita gunakan setiap hari.
        Kami bertiga (Hendro, Melkisedek, dan Triko) berangkat dari rumah dinas Sekolah Kristen Makedonia pukul 05.30 pagi dan tiba di Serimbu pukul 07.30 untuk bertemu dengan guide kami bang Wito. Ia juga mengajak saudaranya Antung, Otoh, Kudim serta Amimo yang menyusul kami di tengah jalan.

        Perjalanan kami dimulai dari rumah bang Wito di Jambu balai menuju ke tempat parkir motor di perkebunan sawit di dataran tinggi yang bisa ditempuh selama 20 menit. Setelah jembatan gantung ada persimpangan (yang lurus ke Denge Aji sedangkan ke kanan ke perkebunan sawit). Pilih kanan.

        Setelah parkir motor di tempat tersembunyi kami mulai perjalanan jam 9.30 pagi.

        Melintasi sekitar 7 sungai kecil yang jernih dan juga persimpangan jalan yang kadang membingungkan. Rencana akan membuat peta perjalanan dengan bantuan kompas, ternyata bang Wito membawa GPS.  Akhirnya yang kuno mundur teratur.

        Situasi perjalanan mirip kondisi perjalanan ke air terjun Bedawat dan Unga. Menyusuri pinggiran sungai dan sekali-kali melintas sungai kecil. Belum ada tanjakan yang menguras stamina.

Beberapa kali kami beristirahat di jalan sebelum sampai ke pos Pondok kayu yang merupakan tempat menginap para pemotong kayu pukul 11.30.




        Di pos ini kita sudah bisa melihat air terjun Terintik di kejauhan yang membelah ketinggian bukit dari atas ke bawah. Cukup tinggi.
Sekira 50 meter dari puncak air terjun sebelah kiri ada sebuah gua di tebing yang menurut rekan kami di situ belum belum pernah ada yang masuk ke goa tersebut karena terletak di tebing.
        Menyempatkan makan, beristirahat, dan mandi di sungai maka pukul 1 siang kami lanjut perjalanan menuju tingkat 5 yang memutari perbukitan di sebelah kiri air terjun. Target durasi perjalanan adalah 2 jam.
        Trek setelah pos ini didominasi dengan trek menanjak. Bila anda ingin ke air terjun ini jangan khawatir dengan komunikasi karena tidak perlu membawa HT karena sinyal HP cukup tersedia walaupun bukan 3G. Guide kami sangat baik sekali dan sangat tanggap bila kami sudah sempoyongan dengan “tas keril” kami. Selepas beberapa tanjakan kami menyerahkan keril kami pada mereka.


        Sebelum sampai ke pinggiran air terjun tingkat ke 5 ini kita akan disuguhi hutan yang rindang dengan pohon tinggi dan tebing-tebing menjulang. Kami tiba di lokasi pukul 3 sore. Cukup sulit melihat air terjun di atas karena kita berada persis di belakang air terjun dan di samping tebing.     
   


Pemandangan yang kami dapat adalah pegunungan dan daerah Serimbu dari ketinggian ratusan meter. Keistimewaan lokasi tersebut adalah beberapa pohon cabai rawit yang tumbuh dan berbuah. 
Kami panen sebanyak 2 bungkus plastik 1 kiloan...lumayan untuk menambah selera makan....


Sayang, beberapa tulisan vandalis merusak tebing ini.

Penjara akar pohon...




Kami memutuskan melipir kembali turun satu tingkat untuk bermalam disitu.
        Tepat di samping tebing kami mendirikan 2 tenda dan 2 hammock. Berfoto ria dan mempersiapkan masak nasi di nesting dan mempersiapkan kayu bakar untuk perapian. Kompor Aladin ini masih berjasa menemani penantian rasa lapar kami. Cukup banyak “track record” nya.

        Setelah makan malam kami segera istirahat memulihkan tenaga kami. Bila di dalam tenda suhu cukup bersahabat karena tidak turun hujan.
Bila tidur diluar (hammock) harus waspada dengan suhu rendah di pagi hari dengan membawa matras sebagai alas hammock dan sleeping bag, kalau perlu flysheet di atasnya untuk menahan embun pagi.

        Hari berikutnya kami isi dengan kegiatan “parkour” di bebatuan menuruni aliran sungai ke arah hilir. 


Sesekali melipir ke daratan untuk mencari lokasi yang bagus. Bila turun kebawah sekitar 15 menit kita akan menemukan lokasi camp yang lebih bagus dengan alas tanah dedaunan yang empuk, rindang, dekat dengan air, dan spot memancing. Cukup untuk pasang 3 tenda dome dan beberapa hammock.
        Beberapa batu besar menjadi lokasi berfoto ria yang bagus dengan background air terjun. Karena air terjun ini cukup langsing menuruni tebing dari atas ke bawah dengan jarak tiap tingkat yang jauh, kita cukup kesulitan mendapatkan sudut pemandangan puncak air terjun  sampai beberapa ruas ke bawahnya yang cukup tinggi. Bila di foto bagian atas terlihat pendek, padahal tingginya 100an meter.
Tuhan Maha Kuasa…





       









Setelah mandi dan makan, kami packing dan bersiap turun karena logistik kami yang pas-pasan.
        Bila anda ke tempat ini kami sudah menyediakan buku tamu yang kami simpan dalam botol yang tertancap di pohon dekat tulisan “bakarlah sampah plastikmu”. Sayang saya lupa menyertakan alat tulis di dalamnya. Bila anda membawa alat tulis silahkan mengisi buku tamu tersebut.




        Jam 11 siang kami turun gunung. 2 lokasi lain kami menempelkan tulisan “jangan bunuh Enggang/ Ruai” serta “jangan coret batu”.







Bila menemukan pohon dengan daun seperti ini, jangan disentuh daunnya....gatallll menyengat....
Tiba di lokasi pondok kayu pukul 12 siang (1 jam perjalanan) dan menyantap makanan nasi dengan sayur perenggi, lauk tempe dan sambal cabai rawit. Sambil melihat air terjun Terintik di kejauhan, makanan ini serasa maknyuzzzz.


        Setelah mandi di sungai, kami berpamitan dengan warga pondok tersebut. Kami lanjut perjalanan pulang dari pukul 2 siang sampai lokasi parkir pukul 3 sore. Tiba di Sekolah Kristen Makedonia dalam keadaan selamat.



Refleksi:
ü  Bersyukur pada Tuhan untuk momen yang menginspirasi, cuaca yang bersahabat serta “safe trip” yang kami lalui.
ü  Bagi kabupaten Landak sendiri, keberadaan Serimbu sebagai dataran tinggi dengan wilayah hutannya menjadi tempat penting bagi kota dan warga kota Ngabang sebagai ibukota Kabupaten.
ü  Hilangnya hutan, rusaknya ekosistem (sampah plastik pendaki amatiran), serta punahnya satwa langka (Enggang, Ruai, dsb) sebagai indicator kegagalan semua pihak.
ü  Mudah-mudahan dinas terkait yang ada di Kab. Landak segera bergegas membuat parameter untuk melindungi hutan Serimbu dan ekosistem yang ada di dalamnya.
ü  Ide, gagasan, masterplan dari dinas terkait terhadap Hutan Serimbu harus bersinergi, saling mendukung dan tentu bekerja dengan “hati”.
ü  Kami sebagai pendaki juga terus belajar menjadi pendaki yang “SMART”, memberi yang terbaik untuk menjaga ekosistem dan terus memberi sosialisasi peduli lingkungan kepada orang-orang yang dekat kehidupannya dengan hutan.
ü  Mengutip tulisan bang Idin (pemenang Kalpataru) penyelamat Sungai Pesanggrahan di Jawa Barat, “Alam ini bukan warisan nenek moyang, tetapi titipan anak cucu kita… ”

Semoga kita tidak terlambat….
Salam lestari 290316

CP guide:
OTOH (085249824290)
WITO (085349372786)

Check these links:











4 komentar:

  1. Dahsyat... ruaaaaar biaaaasa

    BalasHapus
  2. mantap bro . bulan mei saya pun akan menjajal Landak untuk xpdc selanjutnya. Riam dait riam mendawat mungkin di prioritaskan

    www.sangfajar.com

    BalasHapus
  3. mantap bro
    kalau boleh tau,ada nyimpan titik koordinat lokasi air terjun trinting ndak,
    terima kasih

    BalasHapus