The Three Mas Kenthirs (3 Pria Gila) #2
Air Terjun Terintik (25-26 Maret 2016)
Menikmati
petualangan di alam bersama teman-teman memberi warna lain pada petualangan itu
sendiri. Kebersamaan tentu menjadi ujian dalam sebuah perjalanan. Berorientasi
pada tim, keterbukaan, ketaatan pada keputusan bersama, sekaligus menempatkan
toleransi dan fleksibilitas pada saat yang tepat perlu dilatih melalui
petualangan.
Petualangan
3 pria kali ini masih ke sorganya penampung air di hutan Serimbu, Kab, Landak,
Kalbar.
Bagi saya pribadi, air terjun yang satu ini
adalah impian pertama saya dulu bila ke Serimbu. Akhirnya moment itu baru tiba
sekarang setelah beberapa air terjun dikunjungi.
Tepat
bersamaan dengan momen hari Hutan sedunia 21 Maret 2016 (Forest Day 2016) yang
mengambil tema “Forests And Water”.
Menekankan betapa pentingnya dataran tinggi terkhusus hutan sebagai penampung
air sekaligus penyaring air alami dan menyediakan udara bersih. Hutan
menyediakan 75% air segar yang kita gunakan setiap hari.
Kami
bertiga (Hendro, Melkisedek, dan Triko) berangkat dari rumah dinas Sekolah
Kristen Makedonia pukul 05.30 pagi dan tiba di Serimbu pukul 07.30 untuk
bertemu dengan guide kami bang Wito. Ia juga mengajak saudaranya Antung, Otoh,
Kudim serta Amimo yang menyusul kami di tengah jalan.
Perjalanan
kami dimulai dari rumah bang Wito di Jambu balai menuju ke tempat parkir motor
di perkebunan sawit di dataran tinggi yang bisa ditempuh selama 20 menit.
Setelah jembatan gantung ada persimpangan (yang lurus ke Denge Aji sedangkan ke
kanan ke perkebunan sawit). Pilih kanan.
Setelah
parkir motor di tempat tersembunyi kami mulai perjalanan jam 9.30 pagi.
Melintasi
sekitar 7 sungai kecil yang jernih dan juga persimpangan jalan yang kadang
membingungkan. Rencana akan membuat peta perjalanan dengan bantuan kompas,
ternyata bang Wito membawa GPS. Akhirnya
yang kuno mundur teratur.
Situasi
perjalanan mirip kondisi perjalanan ke air terjun Bedawat dan Unga. Menyusuri
pinggiran sungai dan sekali-kali melintas sungai kecil. Belum ada tanjakan yang
menguras stamina.
Beberapa kali kami beristirahat di jalan sebelum sampai ke pos Pondok kayu yang merupakan tempat menginap para pemotong kayu pukul 11.30.
Di
pos ini kita sudah bisa melihat air terjun Terintik di kejauhan yang membelah
ketinggian bukit dari atas ke bawah. Cukup tinggi.
Sekira 50 meter dari puncak air terjun sebelah
kiri ada sebuah gua di tebing yang menurut rekan kami di situ belum belum
pernah ada yang masuk ke goa tersebut karena terletak di tebing.
Menyempatkan
makan, beristirahat, dan mandi di sungai maka pukul 1 siang kami lanjut
perjalanan menuju tingkat 5 yang memutari perbukitan di sebelah kiri air
terjun. Target durasi perjalanan adalah 2 jam.
Trek
setelah pos ini didominasi dengan trek menanjak. Bila anda ingin ke air terjun
ini jangan khawatir dengan komunikasi karena tidak perlu membawa HT karena
sinyal HP cukup tersedia walaupun bukan 3G. Guide kami sangat baik sekali dan
sangat tanggap bila kami sudah sempoyongan dengan “tas keril” kami. Selepas
beberapa tanjakan kami menyerahkan keril kami pada mereka.
Sebelum
sampai ke pinggiran air terjun tingkat ke 5 ini kita akan disuguhi hutan yang
rindang dengan pohon tinggi dan tebing-tebing menjulang. Kami tiba di lokasi
pukul 3 sore. Cukup sulit melihat air terjun di atas karena kita berada persis
di belakang air terjun dan di samping tebing.
Pemandangan
yang kami dapat adalah pegunungan dan daerah Serimbu dari ketinggian ratusan
meter. Keistimewaan lokasi tersebut adalah beberapa pohon cabai rawit yang
tumbuh dan berbuah.
Kami panen sebanyak 2 bungkus plastik 1 kiloan...lumayan untuk menambah selera makan....
Kami panen sebanyak 2 bungkus plastik 1 kiloan...lumayan untuk menambah selera makan....
Sayang, beberapa tulisan vandalis merusak tebing ini.
Penjara akar pohon...
Kami memutuskan melipir kembali turun satu tingkat
untuk bermalam disitu.
Tepat
di samping tebing kami mendirikan 2 tenda dan 2 hammock. Berfoto ria dan
mempersiapkan masak nasi di nesting dan mempersiapkan kayu bakar untuk
perapian. Kompor Aladin ini masih berjasa menemani penantian rasa lapar kami.
Cukup banyak “track record” nya.
Setelah
makan malam kami segera istirahat memulihkan tenaga kami. Bila di dalam tenda
suhu cukup bersahabat karena tidak turun hujan.
Bila tidur diluar (hammock)
harus waspada dengan suhu rendah di pagi hari dengan membawa matras sebagai
alas hammock dan sleeping bag, kalau perlu flysheet di atasnya untuk menahan
embun pagi.
Hari
berikutnya kami isi dengan kegiatan “parkour” di bebatuan menuruni aliran
sungai ke arah hilir.
Sesekali melipir ke daratan untuk mencari lokasi yang
bagus. Bila turun kebawah sekitar 15 menit kita akan menemukan lokasi camp yang
lebih bagus dengan alas tanah dedaunan yang empuk, rindang, dekat dengan air,
dan spot memancing. Cukup untuk pasang 3 tenda dome dan beberapa hammock.
Beberapa
batu besar menjadi lokasi berfoto ria yang bagus dengan background air terjun.
Karena air terjun ini cukup langsing menuruni tebing dari atas ke bawah dengan
jarak tiap tingkat yang jauh, kita cukup kesulitan mendapatkan sudut
pemandangan puncak air terjun sampai
beberapa ruas ke bawahnya yang cukup tinggi. Bila di foto bagian atas terlihat
pendek, padahal tingginya 100an meter.
Tuhan Maha Kuasa…

Bila
anda ke tempat ini kami sudah menyediakan buku tamu yang kami simpan dalam
botol yang tertancap di pohon dekat tulisan “bakarlah
sampah plastikmu”. Sayang saya lupa menyertakan alat tulis di dalamnya.
Bila anda membawa alat tulis silahkan mengisi buku tamu tersebut.
Jam
11 siang kami turun gunung. 2 lokasi lain kami menempelkan tulisan “jangan
bunuh Enggang/ Ruai” serta “jangan coret batu”.
Bila menemukan pohon dengan daun seperti ini, jangan disentuh daunnya....gatallll menyengat....
Tiba di lokasi pondok kayu pukul 12 siang (1
jam perjalanan) dan menyantap makanan nasi dengan sayur perenggi, lauk tempe dan
sambal cabai rawit. Sambil melihat air terjun Terintik di kejauhan, makanan ini
serasa maknyuzzzz.
Setelah
mandi di sungai, kami berpamitan dengan warga pondok tersebut. Kami lanjut
perjalanan pulang dari pukul 2 siang sampai lokasi parkir pukul 3 sore. Tiba di
Sekolah Kristen Makedonia dalam keadaan selamat.
Refleksi:
ü Bersyukur pada Tuhan untuk momen yang
menginspirasi, cuaca yang bersahabat serta “safe
trip” yang kami lalui.
ü Bagi kabupaten Landak sendiri, keberadaan
Serimbu sebagai dataran tinggi dengan wilayah hutannya menjadi tempat penting
bagi kota dan warga kota Ngabang sebagai ibukota Kabupaten.
ü Hilangnya hutan, rusaknya ekosistem (sampah plastik
pendaki amatiran), serta punahnya satwa langka (Enggang, Ruai, dsb) sebagai
indicator kegagalan semua pihak.
ü Mudah-mudahan dinas terkait yang ada di Kab.
Landak segera bergegas membuat parameter untuk melindungi hutan Serimbu dan
ekosistem yang ada di dalamnya.
ü Ide, gagasan, masterplan dari dinas terkait terhadap
Hutan Serimbu harus bersinergi, saling mendukung dan tentu bekerja dengan “hati”.
ü Kami sebagai pendaki juga terus belajar menjadi
pendaki yang “SMART”, memberi yang
terbaik untuk menjaga ekosistem dan terus memberi sosialisasi peduli lingkungan
kepada orang-orang yang dekat kehidupannya dengan hutan.
ü Mengutip tulisan bang Idin (pemenang Kalpataru)
penyelamat Sungai Pesanggrahan di Jawa Barat, “Alam ini bukan warisan nenek
moyang, tetapi titipan anak cucu kita… ”
Semoga kita tidak terlambat….
Salam lestari 290316
CP guide:
OTOH (085249824290)
WITO (085349372786)
Check these links:






















































Dahsyat... ruaaaaar biaaaasa
BalasHapusMantap...mantap
BalasHapusmantap bro . bulan mei saya pun akan menjajal Landak untuk xpdc selanjutnya. Riam dait riam mendawat mungkin di prioritaskan
BalasHapuswww.sangfajar.com
mantap bro
BalasHapuskalau boleh tau,ada nyimpan titik koordinat lokasi air terjun trinting ndak,
terima kasih