Temu
Kangen UNGA-BEDAWAT #4
Paradise
Falls of Binua Landak
(1-3
Juli 2015)
Unga-Bedawat seakan tak pernah hilang dari ingatan.
Baru 4 bulan yang lalu kami sowan ke tempat ini, eh tiba2 sudah akan berkunjung lagi dengan tim yang sejenis (sesama pria). Pria2 tulen petualang ini adalah: duo basodara (Irwansyah dan Irmawan), duo Hamba Tuhan (Charlis dan Juki), Kwartet Wakepsek (Hendro, Seven, John dan Yudi), trio orang macho (Ronald, Mesakh dan Fred), ayah anak (Setiadiana, David), pemusik handal (Ugoth dan Alvius) serta guide kami Hedi (Fresh Graduated from College).
Baru 4 bulan yang lalu kami sowan ke tempat ini, eh tiba2 sudah akan berkunjung lagi dengan tim yang sejenis (sesama pria). Pria2 tulen petualang ini adalah: duo basodara (Irwansyah dan Irmawan), duo Hamba Tuhan (Charlis dan Juki), Kwartet Wakepsek (Hendro, Seven, John dan Yudi), trio orang macho (Ronald, Mesakh dan Fred), ayah anak (Setiadiana, David), pemusik handal (Ugoth dan Alvius) serta guide kami Hedi (Fresh Graduated from College).
Jam 5 pagi kita sepakat berangkat, namun karena perbedaan
waktu antara WIB dan WITA alhasil kami berangkat jam 6 an. Setelah berfoto
bersama di Sekolah Kristen Makedonia dengan sumringah langsung tancap gas,
kebut dan geber motor dengan target kota serimbu jam 8 guna kopi darat dengan
guide kami yang menunggu. Setelah bertemu, kami lanjut bermotor ke desa Dange Aji.
Kondisi jalan bervariasi mulai jalan kuning, setapak 1 meter dengan kemiringan
naik dan turun yang kudu dilewati dengan kewaspadaan maksimum. Secara umum
jalan menuju Serimbu dan Dange Aji beberapa sudah ada perbaikan. Semoga PemKab
Landak lebih terbeban juga untuk memprioritaskan jalur transportasi daerah
wisata.
Kami tiba pukul 10 untuk berhenti makan pagi dan ramah
tamah.
3 jembatan gantung kami lalui dengan mulus, semakin
meningkatkan adrenalin kami untuk segera tiba dan…beristirahat…
Motor kami titipkan ke kerabat Hedi yang begitu welcome,
saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang.
Akhirnya…setelah berdoa kami berjalan di tengah rerimbunan
pohon dan disertai gemericik air di sebelah kiri menemani kami menuju hulu
sungai. Trek dengan total 22 titian bambu siap kami hadapi.
Pos I Pos Kayu Belian
berupa tumpukan kayu belian dekat sungai dan pondokan milik Perhutani kami
tempuh sampai jam 12.00. Lanjut ke pos II Pangkalan Seribu (bekas pondok
pencari katu belian) kami tidak berhenti dan tiba di Pos III pos Batu Akik jam
13.00.
Kami tak kuasa menahan lapar dan mengisi logistik minum sambil mencari batu2 yang dicurigai sebagai calon akik untuk kami bawa.
Serangan pacet sebagai hewan penghisap darah sudah mulai merajalela, namun tim
kami sudah siap dengan semprotan kimia anti biohazard dosis tinggi untuk
pencegahan.
Kami lanjut ke penyeberangan pertama/ pos IV yaitu Pos Pohon Embun (disebut pohon embun
karena di area tersebut ada pohon cemara dimana kalau pagi daun itu berembun) jam
14.30. Mandi, spa, dan memanjakan diri. Hampir lupa waktu kami untuk lanjut,
kami ingat ini bukan “sorga” sesungguhnya. Maka kami moved on dan lifted up ransel untuk
track berikutnya.
Rangkaian panjang anggota kami yang menyeberangi sungai ini
mengingatkan kami akan umat Israel yang menyeberangi laut…dipimpin 2
hamba Tuhan. Namun hamba Tuhan yang biasanya sanggup menadahkan tangan untuk
menahan jatuh hujan kali ini seperti tak kuasa menahan derasnya aliran air
sungai dan menyeberangi lompatan batu terakhir sehingga jatuh diiringi dengan
gelak tawa miris rekan2 nya.
Sejak itu “perasaannya menjadi lain”. Tempat ini unik!!!
Selalu ada yang harus direlakan, bila tempo hari powerbank kali ini sandal
jepit….
Mulai 15.00 adalah summit attack dimulai dari pos IV ini,
bila disiplin waktu dan cukup moral maka basecamp seharusnya bisa ditempuh
selama maksimal 1,5 jam. Namun karena terpisah kelompok 1 dan dua cukup jauh
dan stamina yang berbeda-beda cukup menyulitkan kami alhasil karena kurang
konsentrasi dan baru pertama ke lokasi ini sepasang bersodara tersesat,
sehingga teriakan khas “tarzan” berkumandang untuk mendapat respon rekan lain.
Berhasil!
Bersama kelompok kedua dengan sisa moral yang ada dan
suntikan semangat “30 menit lagi sampai” akhirnya bisa menyusul kelompok 1 di
penyeberangan kedua menuju basecamp.
Tiba di basecamp sekira jam 5 sore. Bagi tugas pasang
pukat-tajur, pasang tenda dome, cari kayu bakar dan masak.
Dengan semangat 1945
kami makan malam dengan suguhan sarden dan mie berhubung ikan tangkapan pukat
belum rela tertangkap. Malam hari kami memancing dan pasang tajur. Baru jam 9
malam kami bisa menikmati beberapa pilihan ikan sungai untuk dibakar dan di
sayur tempoyak plus “asam gandhis” andalan koki kita-Juki.
Morning has broken …menikmati suasana pagi yang fresh.
Setelah ambil pukat dan mendapat berkat ikan dari Tuhan kami makan lagi dan
bersiap untuk mendaki ke hulu lagi menuju Riam Unga, beberapa yang lain memilih
untuk standby di camp dan berencana eksplore Riam bedawat yang dekat sekira
100m dari basecamp.
Ada juga yang mencoba peruntungan mencari batu akik
khas bedawat.
Tim Unga berjumlah 8 orang dan memilih jalur sungai mulai
berjalan jam 8.30 pagi.
Beberapa bulu burung ruai, penampakan sekelompok burung
Enggang “sang helikopter hutan”, pohon gaharu dan jejak babi hutan adalah
sebagian temuan menarik selama perjalanan. Bekas papan slogan kami bertuliskan
“jangan coret batu” juga masih tertancap dekat gua kecil sebelah riam tak
bernama.
jam 12.30 siang kami sampai ke tingkat ke tiga dari Unga dimana kita bisa melihat 3 tingkat langsung setinggi total 150an meter.
Kemudian kami memutuskan naik ke atas Unga dengan melipir ke kiri ke arah hutan diiringi trek yang terjal menaiki tebing akar dan tanjakan yang “miring maksimal” kami berjibaku! Untungnya tak ada barang bawaan yang berat kami bawa…hanya kamera dan botol air minum. Sengaja kami tidak bawa bekal makanan karena berpikir tak kan lama.
Kemudian kami memutuskan naik ke atas Unga dengan melipir ke kiri ke arah hutan diiringi trek yang terjal menaiki tebing akar dan tanjakan yang “miring maksimal” kami berjibaku! Untungnya tak ada barang bawaan yang berat kami bawa…hanya kamera dan botol air minum. Sengaja kami tidak bawa bekal makanan karena berpikir tak kan lama.
Keputusan yang kelak kami sesali, karena belum sampai Unga
pun kami sudah kelelahan dan mulai lapar.
Areanya berbatu datar cukup luas dengan pemandangan di depan adalah perbukitan dan di bawah adalah tebing air terjun Unga setinggi 100an meter.
Puncak ini ternyata adalah puncak bayangan karena kami lihat
ke atas masih ada 2 riam lagi berukuran medium yang letaknya 100m dari bibir
puncak Unga.
Cukup tersembunyi dan terlindung pohon serta kelokan aliran sungai. Melepas lelah dengan berfoto, mandi dan merenung maka jam 2 siang kami balik pulang dengan jalur hutan. Beberapa pohon besar meranti menyapa kami dengan diameter sekitar 5 meter menjadi aset hutan tua ini semoga terus lestari.
Cukup tersembunyi dan terlindung pohon serta kelokan aliran sungai. Melepas lelah dengan berfoto, mandi dan merenung maka jam 2 siang kami balik pulang dengan jalur hutan. Beberapa pohon besar meranti menyapa kami dengan diameter sekitar 5 meter menjadi aset hutan tua ini semoga terus lestari.
Tiba di base camp dengan perut lapar pada pukul 3 sore. Sore
itu kami habiskan waktu dengan memanjakan diri berenang, melihat2 hasil
tangkapan batu akik, persiapkan pukat dan tajur, makan dan berlatih menjadi
“native people” ala bedawat.
Setelah makan malam, kami hunting ikan lagi dengan tajur dan
sampai jauh malam masih berjibaku dengan makan ikan bakar….yummmmyyyy
Sweet dream.
Pagi terakhir. Sebagian packing, sebagian ambil pukat dan
tajur.
Hasil yang didapat
cukup memuaskan untuk diolesi garam dan dibawa pulang oleh2 untuk anak
cucu.
Papan buatan bertuliskan “Basecamp MIKA” menjadi
kenang-kenangan kami untuk tempat ini.
Jam 10 kami meninggalkan tempat dengan tidak lupa membakar
dan membersihkan sampah terkhusus sampah plastic di lokasi ini.
Menyempatkan diri bermandi ria di sungai penyeberangan
selama 1 jam an kami tiba di pos awal desa Dange Aji jam 2.30 sore.
Bersyukur perjalanan ini bisa terlaksana dengan aman oleh
karena lindunganNya.
Beberapa hal menarik
sebagai catatan perjalanan kami:
Lokasi itu cukup eksotis dan jauh dari
jangkauan manusia.
Menurut kami apabila dikelola dengan baik beberapa hal yang bisa dilakukan penduduk sekitar bekerja sama dengan pemerintah daerah (Dinas Kehutanan, KLH, dan Dinas Pariwisata) atau sebaliknya pihak pemerintah daerah yang jemput bola dan berinisiatif terlebih dulu adalah:
Menurut kami apabila dikelola dengan baik beberapa hal yang bisa dilakukan penduduk sekitar bekerja sama dengan pemerintah daerah (Dinas Kehutanan, KLH, dan Dinas Pariwisata) atau sebaliknya pihak pemerintah daerah yang jemput bola dan berinisiatif terlebih dulu adalah:
Ada baiknya membuka
akses jalan tidak terlalu dekat dengan lokasi agar kelestarian terjaga (tidak seperti
di riam Manangar).
Desa Dange Aji berlokasi strategis sebagai pos awal sekaligus perijinan. Sehingga tempat ini menjadi wisata hutan khusus (WANA WISATA) yang lengkap seperti: hiking, camping, snorkeling, diving, bird watching, penelitian hutan, dsb.
Desa Dange Aji berlokasi strategis sebagai pos awal sekaligus perijinan. Sehingga tempat ini menjadi wisata hutan khusus (WANA WISATA) yang lengkap seperti: hiking, camping, snorkeling, diving, bird watching, penelitian hutan, dsb.
Tempat ini diharapkan
menjading segmen pasar khusus bagi orang2 muda yang peduli lingkungan dan tidak
hanya berhura-hura.
Secara berkala
menutup lokasi pada waktu tertentu untuk pemulihan ekosistem. Seperti Taman
Nasional Gunung Tengger Bromo yang secara berkala menutup pendakian agar
vegetasi dan ekosisem alam kembali disegarkan.
Pemkab Landak
sepertinya perlu mencontoh Pulau Jawa dalam merevitalisasi alamnya karena pulau
jawa sudah terbatas sekali areal hutannya. Jangan sampai Kalbar yang menurut
”stasistik” masih berhutan, tanpa kita sadari sudah miskin hutan.
Kami pikir Karang
taruna, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup, serta penggiat alam bebas
seKalbar, Pramuka (SAKA WANA), Pecinta Alam, dan komunitas lain harus ambil tanggung jawab
untuk melestarikan lokasi ini.
Next level kami pasti kembali untuk menengok hutan asri ini
dengan serangkaian misi yang semoga menginspirasi petualang lain untuk tidak
hanya menikmati alam namun juga menjadi penjaga alam terkhusus hutan sekitar
riam Bedawat dan Unga. Paradise falls of Binua Landak.
Bukan seberapa cepat
anda menggapai puncak gunung, bukan berapa banyak tempat yang anda kunjungi, bukan
seberapa tinggi gunung anda daki dan bukan seberapa luas area yang anda kuasai.
Tapi seberapa BERMAKNAnya SETIAP petualangan anda dalam mendekatkan diri anda dengan alam, terlebih pada Sang Pencipta.
Jadi, kapan kita kemana (lagi)?
SALAM
LESTARI – Kopaska SKM #2 2015
































