Selasa, 05 Januari 2016

Unga-Bedawat #4



Temu Kangen UNGA-BEDAWAT #4
Paradise Falls of Binua Landak
(1-3 Juli 2015)


Unga-Bedawat seakan tak pernah hilang dari ingatan.
Baru 4 bulan yang lalu kami sowan ke tempat ini, eh tiba2 sudah akan berkunjung lagi dengan tim yang sejenis (sesama pria). Pria2 tulen petualang ini adalah: duo basodara (Irwansyah dan Irmawan), duo Hamba Tuhan (Charlis dan Juki), Kwartet Wakepsek (Hendro, Seven, John dan Yudi), trio orang macho (Ronald, Mesakh dan  Fred), ayah anak (Setiadiana, David), pemusik handal (Ugoth dan Alvius) serta guide kami Hedi (Fresh Graduated from College).

Jam 5 pagi kita sepakat berangkat, namun karena perbedaan waktu antara WIB dan WITA alhasil kami berangkat jam 6 an. Setelah berfoto bersama di Sekolah Kristen Makedonia dengan sumringah langsung tancap gas, kebut dan geber motor dengan target kota serimbu jam 8 guna kopi darat dengan guide kami yang menunggu. Setelah bertemu, kami lanjut bermotor ke desa Dange Aji. Kondisi jalan bervariasi mulai jalan kuning, setapak 1 meter dengan kemiringan naik dan turun yang kudu dilewati dengan kewaspadaan maksimum. Secara umum jalan menuju Serimbu dan Dange Aji beberapa sudah ada perbaikan. Semoga PemKab Landak lebih terbeban juga untuk memprioritaskan jalur transportasi daerah wisata. 

Kami tiba pukul 10 untuk berhenti makan pagi dan ramah tamah.
3 jembatan gantung kami lalui dengan mulus, semakin meningkatkan adrenalin kami untuk segera tiba dan…beristirahat…
Motor kami titipkan ke kerabat Hedi yang begitu welcome, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. 



Akhirnya…setelah berdoa kami berjalan di tengah rerimbunan pohon dan disertai gemericik air di sebelah kiri menemani kami menuju hulu sungai. Trek dengan total 22 titian bambu siap kami hadapi. 

Pos I Pos Kayu Belian berupa tumpukan kayu belian dekat sungai dan pondokan milik Perhutani kami tempuh sampai jam 12.00. Lanjut ke pos II Pangkalan Seribu (bekas pondok pencari katu belian) kami tidak berhenti dan tiba di Pos III pos Batu Akik jam 13.00. 

Kami tak kuasa menahan lapar dan mengisi logistik minum sambil mencari batu2 yang dicurigai sebagai calon akik untuk kami bawa. Serangan pacet sebagai hewan penghisap darah sudah mulai merajalela, namun tim kami sudah siap dengan semprotan kimia anti biohazard dosis tinggi untuk pencegahan.
Kami lanjut ke penyeberangan pertama/ pos IV  yaitu Pos Pohon Embun (disebut pohon embun karena di area tersebut ada pohon cemara dimana kalau pagi daun itu berembun) jam 14.30. Mandi, spa, dan memanjakan diri. Hampir lupa waktu kami untuk lanjut, kami ingat ini bukan “sorga” sesungguhnya.  Maka kami moved on dan lifted up ransel untuk track berikutnya.


Rangkaian panjang anggota kami yang menyeberangi sungai ini mengingatkan kami akan umat Israel yang menyeberangi laut…dipimpin 2 hamba Tuhan. Namun hamba Tuhan yang biasanya sanggup menadahkan tangan untuk menahan jatuh hujan kali ini seperti tak kuasa menahan derasnya aliran air sungai dan menyeberangi lompatan batu terakhir sehingga jatuh diiringi dengan gelak tawa miris rekan2 nya. 
Sejak itu “perasaannya menjadi lain”. Tempat ini unik!!! Selalu ada yang harus direlakan, bila tempo hari powerbank kali ini sandal jepit….

Mulai 15.00 adalah summit attack dimulai dari pos IV ini, bila disiplin waktu dan cukup moral maka basecamp seharusnya bisa ditempuh selama maksimal 1,5 jam. Namun karena terpisah kelompok 1 dan dua cukup jauh dan stamina yang berbeda-beda cukup menyulitkan kami alhasil karena kurang konsentrasi dan baru pertama ke lokasi ini sepasang bersodara tersesat, sehingga teriakan khas “tarzan” berkumandang untuk mendapat respon rekan lain. Berhasil!

Bersama kelompok kedua dengan sisa moral yang ada dan suntikan semangat “30 menit lagi sampai” akhirnya bisa menyusul kelompok 1 di penyeberangan kedua menuju basecamp.

Tiba di basecamp sekira jam 5 sore. Bagi tugas pasang pukat-tajur, pasang tenda dome, cari kayu bakar dan masak. 
Dengan semangat 1945 kami makan malam dengan suguhan sarden dan mie berhubung ikan tangkapan pukat belum rela tertangkap. Malam hari kami memancing dan pasang tajur. Baru jam 9 malam kami bisa menikmati beberapa pilihan ikan sungai untuk dibakar dan di sayur tempoyak plus “asam gandhis” andalan koki kita-Juki.


Morning has broken …menikmati suasana pagi yang fresh. Setelah ambil pukat dan mendapat berkat ikan dari Tuhan kami makan lagi dan bersiap untuk mendaki ke hulu lagi menuju Riam Unga, beberapa yang lain memilih untuk standby di camp dan berencana eksplore Riam bedawat yang dekat sekira 100m dari basecamp. 









Ada juga yang mencoba peruntungan mencari batu akik khas  bedawat.




Tim Unga berjumlah 8 orang dan memilih jalur sungai mulai berjalan jam 8.30 pagi.
Beberapa bulu burung ruai, penampakan sekelompok burung Enggang “sang helikopter hutan”, pohon gaharu dan jejak babi hutan adalah sebagian temuan menarik selama perjalanan. Bekas papan slogan kami bertuliskan “jangan coret batu” juga masih tertancap dekat gua kecil sebelah riam tak bernama.

Di beberapa spot riam cantik kami berhenti untuk berfoto ria.





jam 12.30 siang kami sampai ke tingkat ke tiga dari Unga dimana kita bisa melihat 3 tingkat langsung setinggi total 150an meter.






Kemudian kami memutuskan naik ke atas Unga dengan melipir ke kiri ke arah hutan diiringi trek yang terjal menaiki tebing akar dan tanjakan yang “miring maksimal” kami berjibaku! Untungnya tak ada barang bawaan yang berat kami bawa…hanya kamera dan botol air minum. Sengaja kami tidak bawa bekal makanan karena berpikir tak kan lama. 

Keputusan yang kelak kami sesali, karena belum sampai Unga pun kami sudah kelelahan dan mulai lapar.

Ketemu dengan jalur semestinya tak lama kami tiba di puncak Unga.







Areanya berbatu datar cukup luas dengan pemandangan di depan adalah perbukitan dan di bawah adalah tebing air terjun Unga setinggi 100an meter.

Puncak ini ternyata adalah puncak bayangan karena kami lihat ke atas masih ada 2 riam lagi berukuran medium yang letaknya 100m dari bibir puncak Unga.




Cukup tersembunyi dan terlindung pohon serta kelokan aliran sungai. Melepas lelah dengan berfoto, mandi dan merenung maka jam 2 siang kami balik pulang  dengan jalur hutan. Beberapa pohon besar meranti menyapa kami dengan diameter sekitar 5 meter menjadi aset hutan tua ini semoga terus lestari.

Tiba di base camp dengan perut lapar pada pukul 3 sore. Sore itu kami habiskan waktu dengan memanjakan diri berenang, melihat2 hasil tangkapan batu akik, persiapkan pukat dan tajur, makan dan berlatih menjadi “native people” ala bedawat.
Setelah makan malam, kami hunting ikan lagi dengan tajur dan sampai jauh malam masih berjibaku dengan makan ikan bakar….yummmmyyyy
Sweet dream.

Pagi terakhir. Sebagian packing, sebagian ambil pukat dan tajur.
Hasil yang didapat  cukup memuaskan untuk diolesi garam dan dibawa pulang oleh2 untuk anak cucu.








Papan buatan bertuliskan “Basecamp MIKA” menjadi kenang-kenangan kami untuk tempat ini.
Jam 10 kami meninggalkan tempat dengan tidak lupa membakar dan membersihkan sampah terkhusus sampah plastic di lokasi ini.
Menyempatkan diri bermandi ria di sungai penyeberangan selama 1 jam an kami tiba di pos awal desa Dange Aji jam 2.30 sore.



Bersyukur perjalanan ini bisa terlaksana dengan aman oleh karena lindunganNya.


Beberapa hal menarik sebagai catatan perjalanan kami:
Lokasi itu cukup eksotis dan jauh dari jangkauan manusia.
Menurut kami apabila dikelola dengan baik beberapa hal yang bisa dilakukan penduduk sekitar bekerja sama dengan pemerintah daerah (Dinas Kehutanan, KLH, dan Dinas Pariwisata) atau sebaliknya pihak pemerintah daerah yang jemput bola dan berinisiatif terlebih dulu adalah:
*      Membuka tempat itu untuk wisata alam via internet dan medsos
Ada baiknya membuka akses jalan tidak terlalu dekat dengan lokasi agar kelestarian terjaga (tidak seperti di riam Manangar).
Desa Dange Aji berlokasi strategis sebagai pos awal sekaligus perijinan. Sehingga tempat ini menjadi wisata hutan khusus (WANA WISATA) yang lengkap seperti: hiking, camping, snorkeling, diving, bird watching, penelitian hutan, dsb. 
Tempat ini diharapkan menjading segmen pasar khusus bagi orang2 muda yang peduli lingkungan dan tidak hanya berhura-hura.

Secara berkala menutup lokasi pada waktu tertentu untuk pemulihan ekosistem. Seperti Taman Nasional Gunung Tengger Bromo yang secara berkala menutup pendakian agar vegetasi dan ekosisem alam kembali disegarkan.
Pemkab Landak sepertinya perlu mencontoh Pulau Jawa dalam merevitalisasi alamnya karena pulau jawa sudah terbatas sekali areal hutannya. Jangan sampai Kalbar yang menurut ”stasistik” masih berhutan, tanpa kita sadari sudah miskin hutan.
Kami pikir Karang taruna, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup, serta penggiat alam bebas seKalbar, Pramuka (SAKA WANA), Pecinta Alam, dan komunitas lain harus ambil tanggung jawab untuk melestarikan lokasi ini. 
*      Memberdayakan pemuda desa untuk memperoleh pendapatan dari menjadi tukang parkir motor, penjaja perbekalan/ toko perlengkapan camping/ toko perlengkapan bahan makanan, menjadi guide, penjaga hutan dan denda bagi pengunjung yang melanggar Peraturan Desa/ adat kampung
*      Keberadaan Enggang dan RUAI di sekitar kawasan itu perlu dijaga dengan membentuk satuan tugas patroli/ park ranger. Atau bisa di terapkan hukum adat yang disepakati bersama untuk melarang pembunuhan terhadap Enggang dan RUAI.
*      Lokasi ini adalah sumber air bagi Kabupaten Landak dan Dange Aji pada khususnya, sehingga ijin pembukaan lahan sawit perlu dibatasi agar tidak mengganggu ekosistem hutan tua ini
*      Rotasi hidup Pohon Gaharu/ Cendana yang menjadi primadona bagaikan intan ini perlu disosialisasikan agar tidak hanya terus mengambil dari alam namun penduduk kampung diberi pelatihan dari pemerintah sehingga bisa membudidayakan gaharu secara mandiri. Informasi jenis gaharu dan update harga menjadi perhatian tersendiri bagi pemerintah sehingga mereka tidak “dikibuli” oleh pedagang besar
*      Memberi informasi bagi penduduk kampung pentingnya reboisasi. Contoh 1 pohon ditebang mengganti dengan 2 pohon, dsb
Next level kami pasti kembali untuk menengok hutan asri ini dengan serangkaian misi yang semoga menginspirasi petualang lain untuk tidak hanya menikmati alam namun juga menjadi penjaga alam terkhusus hutan sekitar riam Bedawat dan Unga. Paradise falls of Binua Landak.
Bukan seberapa cepat anda menggapai puncak gunung, bukan berapa banyak tempat yang anda kunjungi, bukan seberapa tinggi gunung anda daki dan bukan seberapa luas area yang anda kuasai.

Tapi seberapa BERMAKNAnya SETIAP petualangan anda dalam mendekatkan diri anda dengan alam, terlebih pada Sang Pencipta.

Jadi, kapan kita kemana (lagi)?
SALAM LESTARI – Kopaska SKM #2 2015




PAPUAs Go to Riam Merasap, Jugan, dan Pengar 

26-27 Desember 2015




































Liburan natal kali ini kami sekeluarga beserta anak-anak Papua juga ada Guru yang mendampingi




( Frets fam,Veven, Maria (Guru). Sedangkan siswa/siswi SKM: Jonas, Steven, Roy, Jery,Yulianus, Yosef,Tina, Ribka, Siska, Clarita, Nely, Dinaasa,Ruth)

pergi ke Sanggau Ledo untuk berkunjung ke tempat saudara juga berwisata air atau riam Pengar dan Merasap





Jarak SKM ke Sanggau Ledo dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua juga roda empat dgn jarak tempuh 3,5 jam



Kami berangkat dari SKM jam 06:30 pagi dengan kendaraan minibus ELF.











Dengan hati gembira kami brkt dgn rute SKM-SIDAS-ANIK-DARIT-SIMPANG TIGA yg kami lalui dgn jalan yg penuh



tikungan seperti jalan ular,baru seperempat jalan sudah ada yang mulai mabuk.




Hingga kami tiba di simpang tiga untuk istirahat sebentar memulihkan stamina.






Setelah cukup istirahat kami melanjutkan perjananan dengan rute SIMPANG TIGA-BENGKAYANG-LEDO-SANGGAU PASAR



dengan lancar kami tiba di tempat tujuan jam sepuluh pagi.








Setelah sampai kami beserta rombongan disambut dengan hangat oleh keluarga besar EFRIYANTI (siswi SMAK Makedonia)


dimana rumah keluarga Efri nanti sebagai home base kami selama menginap.




Setelah makan siang kami bersiap lagi untuk melanjutkan perjalan kami ke Tapal batas Indonesia-Malaysia yang ada di Jagoi Babang.





Tapi sayang setelah sampai di sana kami hanya dapat mengijakkan kaki kami hanya sampai di tapal batas saja karena,



kami lupa membuat surat untuk dapat melewati Serikin Bau, mungkin di lain waktu kami dpt sampai ke sana.

Perjalanan ke tapal batas dpt di tempuh dgn waktu 45 menit saja.






Oh ya. nama Tapal batas Indonesia-Malaysia adalah SEPADAN.








Akhirnya setelah puas berfoto ria & selfie di tapal batas juga di TUGU, kami melanjutkan perjalanan ke RIAM JUGAN



untuk berenang juga sambil mandi sore,aahhh segar setelah lelah segala aktivitas kami baik dlm perjalanan ,
terbayar lunas dengan air yg segar & dingin langsung menyengarkan tubuh yang penat.





Akhirnya tiba bagi kami untuk beristirahat dan makan malam,tapi setelah makan malam sblm kami istirahat kami beserta rombongan

Berkunjung kerumah Delsa Nataya (eca) siswi SMAK Makedonia.

























Keesokan harinya, setelah ibadah kami pun bersiap untuk berwisata air ke Riam Merasap 




& Riam Pengar. 






Ke dua Riam ini dapat di tempuh dari Sanggau Pasar sekitar 20 menit. Memiliki keunikan masing-masing yang hanya dirasakan bila rekan-rekan datang langsung kesini. 

Semoga jernihnya air riam ini juga sejernih langkah-langkah kita menatap 2016.

Jadi, kapan kita kemana??? 

Frets-06012016