BEDAWAT-UNGA #3
(March 6-8th 2015)
PARADISE FALLS OF LANDAK, WEST BORNEO
Bagi saya bersyukur
sekali tahun ini adalah kali ketiga saya mengunjungi tempat eksotis di
kabupaten Landak ini.
2013 saya bersama
teman2 Dange Pijan ber 5 (Hedi, Paulus, Enyan, Hendra)
2014 saya bertiga
bersama adik saya (Hedi) dan rekan yang bekerja di Papua yang sedang pelayanan
di Sekolah Kristen Makedonia Ngabang (Bram)
2015 tidak menyangka
animo rekan2 sekerja saya Di SKM benar2 diluar dugaan. Bahkan wanita2 yang
konon dianggap “lemah” mau ikut bersama kami para pria.
Tim petualang kali
ini kami menyebutnya KOPASKA SKM karena destinasi yang kami tuju adalah wilayah
perairan yaitu sungai dan air terjun. Riam Bedawat dan air terjun Unga menjadi
spot destinasi kami.
Tim kami (Hendro,
Eki, Jhon, Yudi, Yopi, Ugot, Pedrina, Hana, Puspa, dan Maria Goreti) plus
rekan-rekan yang menyusul hari berikutnya dari Dange Pijan (Hendra dan Bapak
Rafi)
Berangkat bermotor setelah
mengajar jam 1 siang sampai serimbu jam 4 sore. Kami lanjut ke desa Dange Pijan
dan Dange Aji yang merupakan desa terakhir yang bisa ditempuh bermotor. Beristirahat
sebentar di rumah Bapak Imel sambil menunggu hujan reda. Kami bertekad untuk
meneruskan perjalanan walau disarankan untuk istirahat dan bermalam dulu di
kampung itu. Jam 5.30 sore kami berangkat melalui jembatan gantung. Dengan
senter kepala dan para wanita dibagian tengah rombongan maka kami pelan2
berjalan. Pos 1 di pondok belian bisa ditempuh 1,5 jam dari Dange Aji. kami
sempat tersesat karena mengambil jalur kanan dimana saat itu jalur kiri
tertutup pohon tumbang, alhasil tanjakan menaiki bukit sampai ladang dan pondok
orang. Kami sepakat kembali ke persimpangan dan ternyata benar pesan orang2
kampung “ambil jalur kiri terus jangan kanan”. Berhenti sebentar untuk makan
malam, buat api unggun mini dan mengisi air minum dari sungai. Saat itu jam
sudah menunjukkan pukul 8 malam. Kami lanjut menuju Pos I yaitu Pondok Belian
(terdapat beberapa pondok untuk transit kayu belian2 yang akan dihanyutkan
lewat air). Tiba di sana sudah pukul 11.30 malam. Suasana malam yang membuat
jalan terasa berbeda dan stamina wanita yang tidak setara dengan pria membuat
kami maklum perjalanan malam ini akan terasa
panjang. JIWA KORSA !!!.
Kami membuat api unggun
kecil dan beristirahat sejenak.
Tantangan berikutnya adalah tanjakan menyusuri
bukit untuk turun kembali dan berharap sampai di Pos II Pohon Embun dalam waktu
setengah jam. Titian bambu yang kita lewati selama perjalanan adalah 22 titian
yang harus dilewati dengan hati2 karena malam, licin habis hujan dan penerangan
yang kurang maksimal. Bagi beberapa rekan wanita ini adalah pengalaman pertama
sehingga perlu adaptasi. Kami tiba di pos II tersebut pukul 12 malam berhenti
untuk masak mie serta nasi bungkus dan menyempatkan memancing sebentar untuk
sekedar formalitas saja, karena pancing yang kami lempar langsung nyantol batu
alhasil kami putus saja senarnya. Jam 1 kami bertolak dari pos II pohon embun
ini menuju basecamp dan tantangan terbesar kami adalah menyeberangi sungai
selebar 20m dengan titik2 tertentu yang berarus deras dan dalam.
Tidak mudah
menyeberangi sungai dengan beban berat dipundak dan melompati batu2 seperti
olahraga ekstrem perancis “parkour”. Terlebih membantu rekan wanita kami yang
berjumlah 4 sangat menguras tenaga dan perhatian, namun itulah indahnya
perjalanan, sesuatu yang diraih dengan susah payah dan bersama-sama lebih
bermakna ketimbang sesuatu yang gampang diraih secara individual. Pedrina salah
satu rekan wanita kami kehilangan powerbank yang dipakainya sebagai senter.
Barang itu lenyap bersama arus sungai dan kegelapan malam. Sejak saat itu
perasaannya menjadi lain…..
Kami perlu waktu 1
jam menyeberangi sungai itu….
Tiba ditepian sungai
tantangan kami berikutnya adalah melewati hutan yang cukup banyak variasi medan
naik turun, melewati halang rintang kayu, masuk celah batu goa, serangan pacet,
dan beberapa jalur jalan yang membingungkan.
Bagi saya membawa
rekan2 tiba pos II adalah suatu prestasi tersendiri, apalagi kalau bisa lolos
dari penyeberangan sungai dan menyusuri hutan pada malam hari rasanya perlu
keajaiban, karena saya sendiri beberapa kali meragu untuk ambil jalan. Saya
bersyukur rekan2 bersama2 membawa tanggung jawab ini dan saling menjaga,
mengingatkan satu sama lain. Kami tercengang melihat jam sudah menunjukkan
pukul 4 pagi tapi belum sampai juga. Akhirnya mengingat beberapa teman wanita
sudah terlampau lelah karena sudah berjalan kurang lebih 8 jam dan sepertinya
sudah bosan dengan jawaban saya yang kalau ditanya “berapa lama lagi
sampai????”….saya jawab 30 “menit lagi” dan jawaban itu ternyata sudah 5x saya
lontarkan…disitu saya merasa sedihL
Kami sepakat
mendirikan tenda di cekungan tanah dekat sungai dan batu besar. 1 tenda dome untuk
wanita di tanah dan 2 tenda dome pria kami dirikan di atas batu.
Sebenarnya percuma
saja tidur 2 jam menjelang pagi karena kami nyatanya tidak tidur hanya pejamkan
mata dan berharap untuk tahu dimana lokasi kami ini….sudah lewat ataukah malah
masih jauh panggang dari api….
Jam 6 pagi kami
observasi lokasi, ada yang masak, mancing, berburu, saya sendiri berusaha
menebus “dosa” saya dan segera memutuskan observasi ke atas….benar saja
setengah jam kemudian saya sadar kami belum sampai tujuan….dengan HT ditangan
saya kabari “basecamp darurat” kami untuk segera makan seadanya, packing, dan
lanjut perjalanan…..disitu saya merasa senangJ
Setelah packing pukul
8.30 pagi kami lanjut perjalanan menuju perlintasan sungai lagi. Perjalanan
kali ini agak ringan karena kami tau ada dimana dan tujuan sudah jelas. Alur
jalan hutan yang jelas dan suara gemericik deras air sungai membuat kami serasa
bersemangat. Walau begitu kami tidak lupa membuat tanda goresan parang di pohon
yang kami lalui untuk berjaga2.
Dibeberapa tempat
kami menemukan jejak kubangan babi hutan yang mencari sumber air.
Syukurlah, base camp
sudah nampak di ujung penyeberangan sungai terakhir dan legalah kami,
Seperti perlintasan
berikutnya, dengan jiwa korsa kami sama2 melintasi sungai ini. Tiba dengan
selamat di basecamp pukul 9.30.
Di tepian sungai
berpasir ini kami segera bagi tugas, pasang tenda, cari kayu bakar, masak dan
observasi lokasi dengan cara berfoto ria…
Tidak lama berselang
rekan kami dari Dange Aji yaitu bapak Rafi dan Hendra tiba juga di lokasi kami.
Mereka tidak menyangka kami bisa tiba disini dengan penuh kenekatan.
Mereka langsung
pasang pukat dibeberapa spot aliran sungai dan tidak butuh lama beberapa pukat
sudah terisi dengan ikan….ikan2 inilah yang menemani nasi kami yang sudah
matang di periuk dengan kuah tempoyak. Ikan sungai ini beberapa jenis seperti
ikan “Tangis” bisa sebesar paha manusia bila sudah dewasa dan biasanya di bulan
juli pukat2 yang dibawa berukuran besar berharap memiliki keberuntungan mendapatkan
ikan “Tangis” ini.
Jam 12 siang kami makan siang dan bersiap mendaki ke air terjun Unga jam 12.30 siang.
Jam 12.30 siang
beberapa dari kami mendaki bukit menuju Unga sedangkan yang lain karena
terlihat letih/ oyoh memutuskan tinggal di tenda.
Perjalanan menuju
Unga bisa ditempuh dalam waktu 1- 1,5 jam dengan melipir pinggir sungai,
parkour di bebatuan sungai, menyisir punggung bukit. Dalam perjalanan kami
menemukan satu batu yang ditulis dengan iseng/ vandalisme. Masih tetap seperti
tahun lalu, berarti belum ada penambahan pengrusakan pemandangan. Cukup gembira
dengan hal itu. Kami menancapkan papan slogan bertuliskan “JANGAN CORET BATU”
sebagai upaya sosialisasi kepedulian lingkungan termasuk perbuatan vandalism
ini.
Di tingkat 4 menuju
Unga kami junga menancapkan papan slogan bertuliskan “Lestarikan Enggang”.
Enggang merupakan burung maskot Kalimantan tertutama suku dayak selain burung
Ruai.
Bulan Juli 2014 saya
dan rekan2 sempat menyaksikan sejumlah pasang burung enggang yang beterbangan
antara pepohonan di riam Bedawat dan Unga bagian atas. Suatu pemandangan yang
langka terutama bagi saya yang bukan orang suku pribumi bisa melihat langsung
burung yang diambang kepunahan ini.
Kenapa enggang begitu
penting bagi jantung hutan Kalimantan yang mulai tergerus ini adalah karena:
https://id-id.facebook.com/notes/ian-apokayan/burung-enggang-lambang-kehidupan-suku-dayak/237606456334062Burung Enggang = Lambang kehidupan suku Dayak
Enggang atau Rangkong (bahasa Inggris:
Hornbill) adalah sejenis burung yang mempunyai paruh berbentuk tanduk sapi
tetapi tanpa lingkaran. Biasanya paruhnya itu berwarna terang. Nama ilmiahnya
"Buceros" merujuk pada bentuk paruh, dan memiliki arti "tanduk
sapi" dalam Bahasa Yunani
Dalam
tradisi adat dan budaya Kalimantan, burung Enggang (tingan) merupakan simbol "Alam
Atas" yaitu alam kedewataan yang bersifat "maskulin".
Enggang
adalah burung khas asli Kalimantan, burung ini hidup bebas di belantara hutan
Kalimantan. Burung Enggang memiliki kemampuan terbang amat tinggi dan
amat jauh, sanggup terbang antar pulau. Biasanya beristirahat dan bersarang di
puncak-puncak pohon yang tinggi. Keberadaan burung Enggang amat erat kaitannya
dengan masyarakat suku Dayak.
Burung
Enggang bisa dikatakan sebagai lambang kehidupan suku Dayak. Perpindahan
burung Enggang dari satu tempat ke tempat lainnya melambangkan perpindahan suku
Dayak dari satu daerah ke daerah lainnya pada masa lampau. Hampir seluruh
bagian tubuh burung Enggang ( bulu, kepala, paruh dll ) menjadi lambang lambang
dan simbol kebesaran suku Dayak.
Masyarakat
Dayak sangat menjunjung tinggi keberadaan dan kehidupan Burung Enggang, oleh
karena Burung Enggang dijadikan sebagai lambang kebesaran, perdamaian dan
persatuan; sehingga dalam kehidupan sehari-hari burung enggang senantiasa
dipakai dalam bentuk patung, ukiran, lukisan, pakaian adat, rumah adat, balai
desa, monumen, pintu-pintu gerbang, bahkan digunakan juga di kuburan-kuburan.
Manusia
tradisional memang selalu akrab dengan dunia simbol. Tato pada laki-laki Dayak,
kuping panjang pada wanita Dayak, atau "coretan-coretan" artistik
pada wajah dan tubuh suku Asmat (Papua), semuanya tentu mengandung makna-makna
tersendiri sebagai ungkapandiri terhadap keberadaan mereka dalam komunitasnya.
Bulunya
yang indah, disimbolkan sebagai pemimpin yang dikagumi oleh rakyatnya. Sayapnya
yang tebal, menggambarkan pemimpin yang melindungi rakyat. Suaranya yang keras,
menandakan perintahnya yang selalu didengar oleh rakyat. Dan ekornya yang
panjang, dilambangkan sebagai pertanda kemakmuran bagi rakyatnya. Dengan kata
lain, begitulah seharusnya(idealnya) seorang pemimpin bagi masyarakat Dayak.
Orang
Dayak memang selalu dekat dengan alam. Dari alam mereka hidup dan dari alam
pula mereka mengambil makna dalam kehidupannya. Dengan demikian, mengambil
hutan atau tanah dari kehidupan orang Dayak, sama saja dengan mencabut mereka
dari akar-akar kehidupannya.Tercerabut dari akar-akar kehidupannya. Seperti
ikan yang dipisahkan dari air.
Tentunya di kemajuan
jaman seperti ini dimana perambahan hutan dan perubahan budaya agama yang
berkembang tentunya harus membuat suku dayak sendiri lebih arif dalam menghemat
sumberdaya alam dan makhluk hidup di dalamnya.
Hutan yang dirambah
saja sudah cukup untuk mengusir enggang dari habitatnya apalagi dibunuh.
Maka diperlukan
sosialisasi berkala dan bersifat urgent dari pihak terkait terutama insan2
peduli lingkungan di tanah dayak ini untuk saling mengingatkan, memotivasi dan
kalau perlu menangkarkan kembali burung ini, jadi tidak hanya burung simbolis
saja.
“Membunuh
seekor enggang gading itu sama dengan membunuh dua burung enggang sekaligus
karena satwa ini tidak mampu bertahan hidup tanpa pasangan," kata Rudi
Zapariza, Project Leader Sintang-Melawi, WWF-Indonesia Program Kalbar, dilansir
dari Mongabay Indonesia, Kamis (29/8).
Lantaran fauna ini berperan sebagai
penyebar benih di hutan. Jika populasinya makin berkurang, pertumbuhan benih
pohon-pohon hutan juga lambat. Akibatnya, hutan yang merupakan habitat banyak
satwa, sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar, dan penyumbang oksigen
terbesar bagi manusia, akan terancam.
“Kebanyakan orang tidak sadar fungsi
enggang ini di alam. Apalagi waktu reproduksi terbilang lama. Jika terus
diburu, bukan tak mungkin enggang hanya tinggal nama bagi anak cucu kita.”
Lanjut ke perjalanan
Sejak kunjungan pertama
saya kesini saya begitu jatuh cinta dengan air terjun Unga ini. Bila dilihat
dari sudut terbawah yang bisa kita lihat maka air terjun Unga ini bertingkat
8-10. Dimana dibeberapa tempat kita bisa menaikinya secara panjat tebing
setinggi 3 meteran. Tentu perlu pertolongan teman dan doa yang sungguh agar
kita selamat menaiki tebing mini itu. Beberapa tempat juga memiliki teras yang
berundak undak berbentuk kotak seperti piramide mesir.
Melihat dari dekat tingkat
pertama adalah impian saya setiap saya ke tempat ini. Sayang beberapa rekan
menolak ikut untuk explore lebih ke atas.
Jadilah saya memberanikan diri melipir ke arah bukit untuk sampai ke tingkat pertama. Tidak mudah dan penuh kehati-hatian karena beberapa tempat sangat curam, licin dan tentu sebagai tamu yang bukan orang asli sini tentu mengedepankan asas “kepasrahan” pada sang Pencipta.
Setelah beberapa kali terhalang dinding
tanah berbatu dan harus melipir lagi saya akhirnya bisa mencapai dataran yang
setinggi tingkat pertama tapi saya mengurungkan niat untuk lebih dekat karena
terhalang turunan yang curam dan tertutup semak2 rapat. Pun guntur sudah
bersuara diatas sana. Kemungkinan akan turun hujan. Selain itu rekan2 saya
pasti sudah sangat khawatir. Maka saya merekam sebentar tingkat pertama itu
sebelum kembali. Areanya tidak begitu luas hanya searea 6m2, tidak terlihat
danau luas dan memiliki ketinggian 125m. samping kanan kirinya dilindungi
tebing tinggi yang solid, “angkuh” dan menantang.
Menuruni bukit dengan tergesa-gesa
bukanlah sesuatu yang disarankan bila mendaki ke unga apalagi tanpa sepatu
sandal dan parang yang lupa dibawa, sehingga tak butuh lama kaki saya tergores
duri dalam karena memaksa masuk semak dan menuruni turunan yang curam….apalagi
tanda pohon yang dipatahkan sebagai penanda sudah tak nampak atau sudah malas
melihatnya. Yang penting jangan sampai menjauh dari aliran sungai. Benar saja
setelah berjibaku dengan semak duri puji Tuhan saya bisa merapat kembali ke
aliran sungai walau pada lokasi yang berbeda ketika pergi tadi. Rekan2
sepertinya sudah tak nampak dan saya memakluminya. Apalagi hujan mulai
membayangi. Apa yang saya bayangkan ternyata meleset sampai di basecamp rekan2
saya ternyata belum kembali. Saya yang merasa bersalah sudah merepotkan mereka
khawatir juga dan hanya bisa berdoa. Tidak lama ternyata mereka bisa pulang
dengan selamat. Disitu saya merasa bersalah sekaligus senang bisa bertemu kembali.
Tidak lupa saya menyampaikan minta maaf pada rekan2 dan ucapan terimakasih pada
Yopi yang sudah rela membawakan sandal dan parang saya.
Siang dan sore itu kami lewatkan dengan
bersenang senang dan berfoto ria di riam bedawat dalam rangka menancapkan papan
slogan “Ayo lestarikan Enggang”.
Beberapa ikan hasil jerat pukat menjadi
lauk kami malam harinya.
Setelah itu kami mempersiapkan alat2
tajur dan pemancingan. Selepas makan malam kami meluangkan waktu untuk
memancing di sebuah kolam sungai yang cukup besar. Namun malam itu kami merasa
tidak mood untuk mancing dan hanya memperoleh beberapa ikan, tak berapa lama
kami kembali sambil mengecek tajur. Syukurlah hasil tajur cukup memuaskan hati
dan bisa mengenyangkan perut yang sudah keroncongan. Malam itu karena terlalu
oyoh kami segera meringkuk di dalam tenda dan sleeping bag untuk berbagi cerita
konyol sepanjang hari itu….
Tak terasa jam 5 hari minggu kami
bangun cukup segar dan ceria karena kami sudah merasakan beberapa pengalaman
yang mengasyikkan dan hari ini akan kembali ke habitat kami dan orang2 yang
kami cintai.
| Breakfast...yummyyyyyy |
Pagi itu setelah masak dan makan kami segera
packing dan membakar sampah plastic yang ada. Tidak lupa karena tempat itu
adalah lokasi camp, maka kami menancapkan papan slogan “bawa pulang/ bakar
sampah plastikmu”. Berharap rekan2 petualang yang bertamu disini juga memiliki
tanggung jawab yang sama dengan kita, yaitu tidak hanya menjadi “Penikmat Alam”
tapi juga “Pecinta Alam” yang sesungguhnya. Karena plastic tak terpakai adalah
sampah an organic yang cukup lama bisa terurai tanah. Konon mencapai puluhan
tahun.
Dengan berdoa syukur terlebih dahulu
dan berfoto kami segera meninggalkan Riam Bedawat dan Air terjun Unga dan
menuju Ngabang jam 9.30 pagi. Perjalanan siang tidak kalah melelahkan karena
tas kami ternyata tidak berkurang beratnya karena membawa kembali bahan makanan
yang tersisa dan hasil pembagian ikan hasil tangkapan.
Rincian perjalanan
waktu pulang:
Basecamp-pos II pohon embun 9.30-11.00
Istirahat 11.00-11.30
Pos II pohon embun-pos I pondok belian 11.30-12.38
Pos I pondok belian-Dange Aji 12.38-15.00
Kelompok Kijang menjadi juara dalam perjalanan
pulang sedangkan kelompok tronton harus puas diurutan kedua karena kegemaran
mereka selfie dan beristirahat.
Beberapa hal menarik
sebagai catatan perjalanan kami:
Lokasi itu cukup eksotis dan jauh dari
jangkauan manusia. Menurut kami apabila dikelola dengan baik beberapa hal yang
bisa dilakukan penduduk sekitar bekerja sama dengan pemerintah (atau sebaliknya
pihak pemerintah daerah yang jemput bola dan berinisiatif terlebih dulu) adalah:
Ada baiknya membuka
akses jalan tidak terlalu dekat dengan lokasi agar kelestarian terjaga (seperti
di riam Manangar). Desa Dange Aji berlokasi strategis sebagai pos awal
sekaligus perijinan. Sehingga tempat ini menjadi wisata hutan khusus yang
lengkap seperti: hiking, camping, snorkeling, diving, bird watching, penelitian
hutan, dsb.
Tempat ini diharapkan
menjading segmen pasar khusus bagi orang2 muda yang peduli lingkungan dan tidak
hanya berhura-hura.
Secara berkala
menutup lokasi pada waktu tertentu untuk pemulihan ekosistem. Seperti Taman
Nasional Gunung Tengger Bromo yang secara berkala menutup pendakian agar
vegetasi dan ekosisem alam kembali disegarkan.
Pemkab Landak
sepertinya perlu mencontoh Pulau Jawa dalam merevitalisasi alamnya karena pulau
jawa sudah terbatas sekali areal hutannya. Jangan sampai Kalbar yang menurut
”stasistik” masih berhutan, tanpa kita sadari sudah miskin hutan.
Kami pikir Karang
taruna, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup, serta penggiat alam bebas
seKalbar, Pramuka, Pecinta Alam, dan komunitas lain harus ambil tanggung jawab
untuk melestarikan lokasi ini.
Kiranya petualangan tim
Makedonia kali ini menginspirasi kita akan arti petualangan itu sendiri.
Bukan seberapa cepat
anda menggapai puncak gunung, bukan berapa banyak tempat yang anda kunjungi, bukan
seberapa tinggi tebing anda daki dan bukan seberapa luas area yang anda kuasai.
Tapi seberapa
BERMAKNAnya petualangan anda dalam mendekatkan diri anda dengan alam terlebih
pada Pencipta kita.
Jadi, kapan kita kemana?
SALAM
LESTARI – Kopaska SKM 2015






































