Rabu, 18 November 2015

Menjamur di Bukit Jamur
(13-15 Februari 2015)


Destinasi kami kali ini adalah bukit yang cukup terkenal sebagai obyek wisata di daerah bengkayang.

Kami cukup banyak berjumlah 16 orang yaitu Setiadi, anaknya David, Yasonta, Yeremia, Kandi, Yudi, Trianto, Wiwit, John Wesly, John Nelson, Hendro, Melkisedek, Reinaldi, Ronald, Fred, dan Dedi.

Perjalanan ke bengkayang berkisar 3 jam bermotor dari Ngabang via Darit. Bila sudah tiba di kota Bengkayang, kita ambil arah ke kiri dan tiba di simpang empat ambil jalan kekiri dan ikuti jalan itu sampai ada petunjuk jalan. Kita juga melewati jembatan gantung sebagai tandanya. Cukup mudah dan jangan khawatir tersesat.

Bila sudah sampai penitipan motor dan helm kita akan didata dan menitipkan motor kita.
Pengelolaan sudah cukup bagus terutama dalam hal meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar.
Perjalanan ke bukit hanya 2 jam cocok bagi pemula dan keluarga yang membawa anak kecil.
Seperti rekan kami yang membawa anaknya. Selain untuk menularkan jiwa petualangan tentu kita bisa menularkan (baca: menitipkan) barang-barang kita kepadanya apabila kita karena faktor “Usia” sudah mulai berkunang-kunang alias oyoh bin penat.


Rekan kami sudah mempraktikkannya dan berhasil.
Tanjakan paling berat adalah setengah jam menuju puncak, cukup tinggi dan harus memiliki manajemen pernafasan yang baik. Bebatuan besar menyambut kami di puncak, setelah itu baru jalan setapak menuju puncak yang ditandai dengan bendera merah putih besar. Sempat kami bertemu dengan anggota Pramuka dari salah satu SMA Bengkayang, dimana mereka secara rutin naik ke bukit Jamur untuk kerja bakti. Acungan jempol untuk mereka. Disaat bisa bersenang-senang, mereka justru membaktikan kerja mereka tanpa dibayar untuk menjaga kebersihan lokasi ini. Mudah-mudahan selain sekolah ini, penggiat organisasi kepemudaan tidak hanya di Bengkayang juga memiliki kepedulian yang sama.
Lokasi perkemahan merupakan punggungan buki yang memiliki dataran yang cukup luas. Seperti gunung Prau di Wonosobo dan bukit Panderman di Batu Malang. Beberapa tempat sudah terpasang tenda permanen yang mungkin disewakan dan beberapa areal tanah yang sudah diratakan. Kantin pun sudah ada ditempat ini bila kita memerlukan sesuatu.





Kami memilih lokasi tenda dekat bendera Merah Putih karena cukup rindang dan memiliki pemandangan yang cukup bagus.
View yang bisa kita dapatkan adalah dataran rendah di kota bengkayang, Gunung Bawang dan beberapa bukit dikejauhan. Bila beruntung kita bisa melihat awan kinton/ cumulus di bawah kita.

Lokasi sumber air ada dua yaitu di dalam hutan dan di lereng bukit dekat lokasi perkemahan bagian tengah.
Karena hari valentine, malam itu cukup meriah tapi juga menurut kabar memang tiap weekend tempat ini banyak dikunjungi muda-mudi dengan motivasi yang berbeda-beda.
Bila Sabtu sore bisa dipastikan puluhan tenda dome dan semacamnya sudah terpasang untuk menyambut malam mingguan yang benar-benar panjang.
Saran saya, bagi yang mencari ketenangan sebaiknya mengambil waktu selain weekend. Karena bisa dipastikan kita tidak bisa tidur nyenyak semalaman.
Pendaki pemula ini biasanya tidak menetap lama dan mendaki sore hari menginap semalam dan besok pagi pulang.
Mudah-mudahan tempat ini tidak disalah fungsikan dan itu tentu membutuhkan kepedulian kita semua.
Tentu kalau sudah berkeluarga lain lagi ceritanya.
Ranger/jagawana dari organisasi kepemudaan perlu ditugaskan di area ini untuk menjaga kebersihan , ketertiban dan keamanan.

Kami pulang melalui jalan lain yaitu perosotan selama  40 menit karena turunan yang nyaris tidak ada terasiring sehingga kita meluncur saja. Sebaiknya jangan memakai sandal atau sepatu yang tidak memiliki grip. 


Bila lewat jalan ini kita bisa menghemat waktu dan juga merasakan sensasi perjalanan yang lain.

Salam dari Jamur….Kapan kita kemana...?
https://sites.google.com/site/makedoniadventures/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar