Unga-Bedawat
#2
Three
Mas Kenthirs (3 pria gila)
All for one, one for all.
Motto 3 jagoan pada masa renaissance
yang bersatu padu mengalahkan lawan-lawannya.
Demikian juga dengan petualangan yang
kedua ini. Saya, Bram (bekerja sebagai pendidik di Papua) dan tentu saja adik
kami, Hedi.
Saya dan Bram bermotor dari SKM
dipagi yang berembun supaya tidak terlalu siang sampai di base camp Bedawat.
Rencana awal sudah gagal lantaran sinyal komunikasi yang tidak ada sehingga
informasi kedatangan kami tidak sampai. Jadilah Bram bersama ortu Hedi
menjemput Hedi di lokasi kerja “dompeng”. Setelah bertemu, kami segera
mempersiapkan perlengkapan untuk perjalanan kami.
Tamu dari Papua ini merupakan surprised
khusus karena saya tidak menyangka mendapat respon positif dari Bram untuk join
walau hanya berdua.
Bertiga kami menyusuri perjalanan,
dengan bekal pengetahuan perjalanan pertama saya sebelumnya, kami berupaya
memangkas waktu.
Kejadian menarik di jalan adalah kami
menemukan beberapa durian jatuh yang akhirnya kami bawa dan makan di pos 2
(pondok seribu). Sisanya kami bawa untuk dijadikan tempoyak.
Tiba di base camp jam 4 sore.
Perjalanan kali ini saya tidak membawa dome tapi 1 flysheet dengan sleeping
bag, berasumsi hari tidak hujan dan mengurangi beban tas ransel.
Cabe rawit adalah salah satu bumbu
makanan mencolok yang kami bawa. Dengan sambal cabe rawit di atas tempurung
kelapa, sayur ikan tempoyak dan ikan bakar membuat kami serasa di restoran
mewah taman eden.
Kamera DSLR yang dibawa Bram juga
terasa special karena bisa mengambil foto-foto terbaik kami. Terutama saat
memfoto Enggang yang sedang melintasi puncak Unga.
Suasana Riam Unga
Say no to vandalism----Coret-coret batu
Suasana malam
Riam Bedawat
Walau bertiga, suasana tetap hangat
dan kami saling share bila malam sudah menjelang ditemani api unggun dan
minuman hangat. Bivak yang kami buat cukup hangat dan melindungi kami dari
dingin. Tentu harus menjaga api unggun tetap menyala untuk berjaga-jaga.
GO HOME...
Sejumlah ikan bisa kami salai dan
awetkan dengan garam serta dibawa pulang sebagai oleh-oleh.
Kami pulang dengan puas, karena
tempat itu masih seperti yang dulu….dan siap menanti kami datang kembali.


























Tidak ada komentar:
Posting Komentar