Rabu, 18 November 2015

Unga-Bedawat #2
Three Mas Kenthirs (3 pria gila)




All for one, one for all.
Motto 3 jagoan pada masa renaissance yang bersatu padu mengalahkan lawan-lawannya.
Demikian juga dengan petualangan yang kedua ini. Saya, Bram (bekerja sebagai pendidik di Papua) dan tentu saja adik kami, Hedi.
Saya dan Bram bermotor dari SKM dipagi yang berembun supaya tidak terlalu siang sampai di base camp Bedawat. Rencana awal sudah gagal lantaran sinyal komunikasi yang tidak ada sehingga informasi kedatangan kami tidak sampai. Jadilah Bram bersama ortu Hedi menjemput Hedi di lokasi kerja “dompeng”. Setelah bertemu, kami segera mempersiapkan perlengkapan untuk perjalanan kami.

Tamu dari Papua ini merupakan surprised khusus karena saya tidak menyangka mendapat respon positif dari Bram untuk join walau hanya berdua.
Bertiga kami menyusuri perjalanan, dengan bekal pengetahuan perjalanan pertama saya sebelumnya, kami berupaya memangkas waktu.


Kejadian menarik di jalan adalah kami menemukan beberapa durian jatuh yang akhirnya kami bawa dan makan di pos 2 (pondok seribu). Sisanya kami bawa untuk dijadikan tempoyak.


Tiba di base camp jam 4 sore. Perjalanan kali ini saya tidak membawa dome tapi 1 flysheet dengan sleeping bag, berasumsi hari tidak hujan dan mengurangi beban tas ransel.



Cabe rawit adalah salah satu bumbu makanan mencolok yang kami bawa. Dengan sambal cabe rawit di atas tempurung kelapa, sayur ikan tempoyak dan ikan bakar membuat kami serasa di restoran mewah taman eden.
Kamera DSLR yang dibawa Bram juga terasa special karena bisa mengambil foto-foto terbaik kami. Terutama saat memfoto Enggang yang sedang melintasi puncak Unga.

Suasana Riam Unga





Say no to vandalism----Coret-coret batu


Suasana malam



Riam Bedawat







Walau bertiga, suasana tetap hangat dan kami saling share bila malam sudah menjelang ditemani api unggun dan minuman hangat. Bivak yang kami buat cukup hangat dan melindungi kami dari dingin. Tentu harus menjaga api unggun tetap menyala untuk berjaga-jaga.

GO HOME...




Sejumlah ikan bisa kami salai dan awetkan dengan garam serta dibawa pulang sebagai oleh-oleh.
Kami pulang dengan puas, karena tempat itu masih seperti yang dulu….dan siap menanti kami datang kembali.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar