Senin, 16 November 2015

Mengais "Emas" di Bukit Semarong
21-22 Desember 2012

               

Sebutan lain untuk Binua Landak adalah kota intan…emas dan intan banyak terkandung di daerah ini. Tidak heran penjelajah luar negeri dari dulu sudah mengeksplor tempat ini untuk dijadikan pertambangan serupa Freeport… beberapa kejadian rejeki nomplok dari hasil “dompeng” emas atau intan oleh masyarakat cukup membuat kita “ngiler” bin iri nan terperangah. Bagaimana tidak heran dengan penemuan intan berkarat tinggi yang terjual dengan harga “M” atau bahkan bernilai “T” sampai bisa beli jeep “hummer” waaaaaahhhh.
                Atas dasar itulah…cerita dari rekan kami bahwa dulu tempat tersebut banyak didatangi orang asing, dan terdapat helipad disana…bahkan konon ada 2 orang masuk gua tersebut namun yang kembali hanya satu….kabarnya satu orang yang lain tersesat dan goa itu menuju tempat lain di sungai Kapuas…
Goa inilah yang menjadi obyek khayalan dan motivasi kami.

                Jauh-jauh hari kami sudah mempersiapkan diri untuk ekspedisi ini untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti “kanibalisme”, vertical rescue, surat administrasi, surat kuasa dan pembagian harta yang adil.
                Konon orang melakukan apapun untuk emas, termasuk hal licik terhadap temannya. Kami sepakat untuk tidak membawa kecap agar bila dalam keadaan survival orang tersebut tidak akan meng ”kecapin” temannya yang lagi tidur digoa kemudian menyantapnya, terus emasnya dibawa kabur. Masuk goa ber sembilan, yang keluar goa hanya 1 wahhhhhhh.
                Toko adventure di ngabang kala itu menjadi laku keras lantaran tim ini membeli perlengkapan penunjang, dan senyum lebar menghiasi penjual toko….Perencanaan ekspedisi itu sendiri merupakan salah satu bagian yang tak kalah asyiknya dengan petualangan itu sendiri.
Tim ini berjumlah 9 yaitu:Yudi, Setiadi, Hendro, Fred, Yeremia,Irmawan,Nelson, Dodi, dan kandi
Kami berangkat pagi-pagi menuju desa Jangkang lewat simpang di dusun Peruan Dalam Kabupaten Sanggau….yang menjadi rumah orangtua rekan kami Yeremia.


                Tiba di sana siang, rehat dan makan-makan sebentar kami packing dan menuju area perbukitan yang sudah ditanami sawit. Pemandu kami adalah paman dari rekan kami. Jalan yang dilewati cukup jauh dan menantang karena kami di pertengahan perjalanan harus memutar punggungan bukit, menyusuri sungai dan riam kecil.





Salah satu teman kami terjepit di tanjakan terjal karena tidak menemukan lagi pegangan untuk naik ke atas. Salah satu teman kami mengevakuasinya….SELAMAT.

Kami juga sempat berfoto di monumen ekspedisi dari rusia tahun 1976.

Kondisi fisik cukup lelah lantaran bermotor dan berjalan.
Sekira sore hari setelah menempuh 3 jam berjalan kami tiba di depan goa yang dimaksud.

                Segera pasang tenda dome dan bivak dari terpal dan mempersiapkan penerangan dan logistic. Tidak lama kami diterpa hujan cukup deras, sehingga kami tdk banyak melakukan aktivitas malam itu. Meringkuk dalam tenda, menimba air yang masuk ketenda dan berandai-andai apabila saat kita tidur ular besar keluar dari goa itu dan menelan kita satu persatu. Alhasil malam itu begitu pannnjaaaaaangggg.


                Tak lupa parang dan senjata tajam dan senapan angin asyik meringkuk di samping kami untuk berjaga-jaga. Syukurnya ditempat antah berantah itu sinyal cukup kuat dan beberapa rekan asyik untuk online. Bahagia di atas penderitaan orang lain….nelangsa….
                Satu kejadian yang menjadi “aib” adalah salah satu rekan kami yang buang hajat tidak jauh dari tenda kami. Tepatnya di atas tenda kami, alhasil ketika air hujan mengguyur bukit itu dari atas maka “barang” itu disinyalir juga melintasi lokasi tenda ini. Untungnya kami pada kedinginan dan pilek sehingga tidak mencium bau yang tidak-tidak.
                Keesokan harinya pagi-pagi kami sudah membuat api untuk masak dan mengeringkan kain yang basah oleh hujan yang turun semalaman. Setelah siap kami packing perlengkapan susur goa/ caving. Dengan tali raffia merah menjadi panduan kami agar tidak salah memilih jalan di dalam goa.




Ternyata…
                Goa tersebut bukanlah goa yang dimaksud. Goa itu cukup pendek dan melingkar sehingga dibeberapa cekungan tidak terlihat jalan keluar. Panjang goa sekira 10 meter dengan mulut goa vertical sekira 2 meter.
Setelah berdiskusi kami memutuskan untuk keluar goa dan packing pulang.
Suatu misteri bagi kami untuk suatu hari nanti menemukan goa ini. Dengan pemandu yang berpengalaman dan tahu lokasi dengan tepat.





                Walaupun ekspedisi ini gagal kami gembira karena banyak kejadian konyol yang terjadi. Dan itu menjadi kenangan masing-masing kami untuk kelak diceritakan ke anak cucu dan cicit. Kami pulang dengan cukup cepat dan berfoto ria di perbukitan semarong. Kegagalan membuat kita sadar, siapa kita…dihadapanNya.






                Terima kasih untuk kebersamaan di dinginnya hujan, basahnya tenda dome, menimba vs online, menabung “emas kuning”, “teriakan kopi satu”, pelukan pohon tambatan, joran pancing tak terpakai, senapan angin tak bertaji, tali raffia merah tak berujung, pamali takabur, tahi kelelawar, emas impian…dan andai ahhhh  ahhhh ku jadi orang kaya …(#oppieandaresta)

https://sites.google.com/site/makedoniadventures/
Riam Manangar….Kala itu
3-4 Juli 2013

        Tempat ini menjadi salah satu ikon Kabupaten Landak yang telah dikelola cukup baik oleh Pemkab Landak. Hal ini bisa dilihat dari akses jalan yang sudah lama dibuat sehingga memudahkan transportasi ke tempat ini. Selain itu beberapa warung dan goa Maria untuk tempat ibadah ziarah umat katolik sudah di buat disana. Oleh karena itu kami penasaran untuk kesana beberapa tahun lalu, kelak ini menjadi awal petualangan keluarga besar Sekolah Kristen Makedonia yang sempat vakum….


        Tidak banyak orang dalam tim kami hanya saya, Yudi, Nelson dan tamu kami seorang mahasiswa teologi dari Jakarta yang sedang praktik di sekolah kami yaitu Ya’aro. Berempat kami berangkat untuk “Kopi darat” di Serimbu dengan seorang guide yang sudah kami kontak sebelumnya yaitu Andi Mpaheng.




        Perjalanan yang cukup berat, di awal perjalanan saja satu matras dan satu sleeping bag kami sudah jatuh dari motor dan raib…sempat pula jatuh dari motor saat jalan kuning menanjak…kami seperti lupa cara bertualang.
        Saat itu perjalanan dari SKM ke Serimbu sekitar 2 jam melewati 2 jembatan gantung dan jalan semen. Kini mungkin akses jalan lebih mudah melewati tempat lain. 






Tiba Manangar kurang lebih 1 jam. Sampai di lokasi agak siang dan masih banyak pengunjung di air terjun itu.
Kegiatan kami,
Hari 1: pasang tenda,mancing, eksplor serta foto-foto di sekitar manangar.
Hari 2: eksplor goa Maria, seberangi sungai untuk memutar ke punggung bukit riam Manangar, melihat goa kelelawar dan kembali turun melewati bagian belakang bawah riam.  Hari hujan sehingga menambah kegilaan petuangan kami. Dinner di dalam tenda , meringkuk kedinginan, tapi makan lahap dengan lauk sardine dan mi serta nasi hangat….hmmmm. sederhana namun penuh kehangatan hati…











Hari 3: bebersih sampah plastic, brunch, mancing, farewell party







        Saat itu masih belum ada tempat sampah dan papan-papan himbauan untuk kebersihan, sehingga kami membuatnya dari tumpukan batu-batu. Semoga kini sudah tersedia, lebih asri, terkelola baik dan bersih.
Berharap akses yang begitu mudah ke lokasi tidak begitu cepat merusak keasrian tempat ini. Bila terjadi maka percuma kita membuka hutan kita untuk dijamah namun tidak di sayang sehingga tempat itu tidak akan berkesan lagi dan segera akan dilupakan…semoga ini tidak terjadi di Manangar….tidak ditanah Parene’an ini…Binua Landak.
Terima kasih Tuhan untuk perlindunganMu…petualangan dan Manangar, the adventure starts now and then…
Thy power throughout the universe displayed, then sings my soul. My Savior God, to Thee. How great Thou art.