Senin, 16 November 2015

Riam Manangar….Kala itu
3-4 Juli 2013

        Tempat ini menjadi salah satu ikon Kabupaten Landak yang telah dikelola cukup baik oleh Pemkab Landak. Hal ini bisa dilihat dari akses jalan yang sudah lama dibuat sehingga memudahkan transportasi ke tempat ini. Selain itu beberapa warung dan goa Maria untuk tempat ibadah ziarah umat katolik sudah di buat disana. Oleh karena itu kami penasaran untuk kesana beberapa tahun lalu, kelak ini menjadi awal petualangan keluarga besar Sekolah Kristen Makedonia yang sempat vakum….


        Tidak banyak orang dalam tim kami hanya saya, Yudi, Nelson dan tamu kami seorang mahasiswa teologi dari Jakarta yang sedang praktik di sekolah kami yaitu Ya’aro. Berempat kami berangkat untuk “Kopi darat” di Serimbu dengan seorang guide yang sudah kami kontak sebelumnya yaitu Andi Mpaheng.




        Perjalanan yang cukup berat, di awal perjalanan saja satu matras dan satu sleeping bag kami sudah jatuh dari motor dan raib…sempat pula jatuh dari motor saat jalan kuning menanjak…kami seperti lupa cara bertualang.
        Saat itu perjalanan dari SKM ke Serimbu sekitar 2 jam melewati 2 jembatan gantung dan jalan semen. Kini mungkin akses jalan lebih mudah melewati tempat lain. 






Tiba Manangar kurang lebih 1 jam. Sampai di lokasi agak siang dan masih banyak pengunjung di air terjun itu.
Kegiatan kami,
Hari 1: pasang tenda,mancing, eksplor serta foto-foto di sekitar manangar.
Hari 2: eksplor goa Maria, seberangi sungai untuk memutar ke punggung bukit riam Manangar, melihat goa kelelawar dan kembali turun melewati bagian belakang bawah riam.  Hari hujan sehingga menambah kegilaan petuangan kami. Dinner di dalam tenda , meringkuk kedinginan, tapi makan lahap dengan lauk sardine dan mi serta nasi hangat….hmmmm. sederhana namun penuh kehangatan hati…











Hari 3: bebersih sampah plastic, brunch, mancing, farewell party







        Saat itu masih belum ada tempat sampah dan papan-papan himbauan untuk kebersihan, sehingga kami membuatnya dari tumpukan batu-batu. Semoga kini sudah tersedia, lebih asri, terkelola baik dan bersih.
Berharap akses yang begitu mudah ke lokasi tidak begitu cepat merusak keasrian tempat ini. Bila terjadi maka percuma kita membuka hutan kita untuk dijamah namun tidak di sayang sehingga tempat itu tidak akan berkesan lagi dan segera akan dilupakan…semoga ini tidak terjadi di Manangar….tidak ditanah Parene’an ini…Binua Landak.
Terima kasih Tuhan untuk perlindunganMu…petualangan dan Manangar, the adventure starts now and then…
Thy power throughout the universe displayed, then sings my soul. My Savior God, to Thee. How great Thou art.

Selasa, 03 November 2015

Road to Riam Dait

Road to Riam Dait

Part 1 (2 November 2015)


“Intan Borneo” masih terpendam di ujung sana…
Masih perlu digali dan dipoles dengan komitmen pendidikan dan penyediaan fasilitas yang mumpuni guna menyambut zaman yang makin tak kompromi dengan keterbelakangan dan keterbatasan.
Oleh karena itu Yayasan MIKA (Misi Kita Bersama) (www.yamika.org) melalui Sekolah Kristen Makedonia yang berlokasi di dsn. Jamai, Desa Amboyo Inti, Km. 14 Plasma V Ngabang, Landak, Kalbar setiap tahunnya melakukan program ROADSHOW yang bertujuan mencari anak-anak kurang mampu yang mau belajar dan dibentuk oleh “tangan-tangan yang tidak kelihatan”.  Ya….hasilnya tidak instan namun kelak…niscaya menjadi orang yang berguna bagi siapapun yang membutuhkannya.

Tim roadshow kami Kandi, Yeremia, John dan Hendro mengunjungi SMP 5 Sekendal (2,5 km dari simpang jalan ke Serimbu), SD 2 Sekendal, SD 16 Kelepuk.
Berangkat santai dari jam 7 pagi sampai sana pukul 9 pagi. Setelah berpromosi dan membuat janji tes dengan pihak sekolah, kami menuju dsn. Engkitip jam 11 siang. Istirahat makan mie sampai jam 12 siang. Setelah siap lahir batin, kami menuju Riam Dait  yang bisa ditempuh baik dengan mobil atau motor 30 menitan.
Jalan sudah cukup bagus dengan tanah kuning rata dan lebar. Beberapa tanjakan panjang harus ditempuh dengan gigi 1.

Kami tiba disambut dengan tukang bangunan yang merangkap tukang parkir dengan biaya parkir 10.000. berjalan kaki sekira 100m kami sudah cheer up di riam Dait tingkat I. 





Setelah berselfie dan wefie dengan berbagai angle kami naik ke tingkat II dengan berjalan kaki 2 menit. Riam lebih bagus dan cukup menawan dari tingkat I dengan melewati hutan kecil. Tinggi dan lebar 30 meteran berbentuk kotak dengan bagian bawah riam terlihat cukup dalam, sehingga perlu skill yahud setara brevet KOPASKA atau Navy Seals untuk sekedar mencoba menyelam atau snorkeling.





Jurus Elang menyambar anak Ikan Buntal....




Namun seperti biasa hal yang masih klasik adalah masalah kebersihan. Tidak kami temukan satu pun tempat sampah yang disediakan dari yang berwenang untuk menjaga kebersihannya. Kami harap segera disediakan tempat sampah dari bekas drum sehingga sampah organic maupun anorganik bisa langsung dibakar ditempat tersebut. Tempat sampah tersebut juga bisa di pasang di sepanjang jalan menuju tingkat 7 di atasnya.
Setelah berfoto ria, menyelam, melompat, dan menyambar ikan. Kami memutuskan kembali ke peradaban jam 2 siang.
Rute pulang kami ambil jalan lain, tidak lewat sekendal lagi namun lewat simpang 4.
Rinciannya:
·        Riam Dait-Engkitip 30 menit
·        Engkitip-simpang 4 (simpang serimbu-Riam Dait-Ngabang-Temoyok) 30 menit

·        Simpang 4-Ngabang 60 menitan
Berhubung tak ada persiapan ke tempat ini, maka kami berencana explore lagi lain waktu. Dengan misi yang lebih humanis…dan alamis….

Selamat mencoba untuk sowan ke sana….jangan lupa buang sampah pada tempatnya ya…kalau tidak ada tempat sampah…bawa pulang dulu ke rumah. Pasti di rumah ada tempat sampah.
Perbandingan waktu daur ulang:

Kaleng Aluminium ………… 300 tahun
Botol Plastik ……… > 100 tahun
Popok Bayi ………… 100 tahun
Baterei ………… 100 tahun
Cangkir plastik …………… 50 – 80 tahun
Puntung rokok …………… 10 – 40 tahun
Kantong Plastik ………… 10 – 20 tahun
Minyak oli …………….. 10 tahun
Kulit Jeruk ………… 6 bulan
Kertas ………… 2 – 5 bulan

Anjuran:
1.    BUDAYAKAN MALU BUANG SAMPAH SEMBARANGAN
2.    BAWA, KUMPULKAN SAMPAH PLASTIKMU SENDIRI WALAUPUN HANYA BEKAS BUNGKUS PERMEN, CARI DAN BUANG KE TEMPAT SAMPAH.
3.    KALAU TIDAK TERPAKSA JANGAN DIBAKAR, JUAL KE PEMULUNG SAMPAH
4.    BUAT KARYA YANG KREATIF DARI LIMBAH PLASTIK
5.    APA YANG KAMU TABUR ADALAH APA YANG KAMU TUAI.
CINTAI ALAM DAN ALAM AKAN MEMBERIKAN BUAHNYA.

RESPECT OUR NATURE!!!
BELAJARLAH MENCOBA….GBU









Road to Riam Dait
Part 2 (11 November 2015)

            Perjalanan kali ini diikuti 11 orang yaitu 1 keluarga Hendro, Seli dan si kecil  Caroline, Irmawan beserta sang istri Kristin, John Wesly beserta calon istri Merris Boru Nadeak, kemudian Kandi, Leo, Yudi serta Debora.


            Program hari ini adalah tes PPDB di 3 sekolah. Berangkat dari SKM jam 6.30 pagi, namun terjebak hujan deras di seperempat jalan menuju Serimbu. Alhasil kami berhenti cukup lama, baru jam 8 kami lanjut perjalanan. Sampai di Sekendal jam 10 pagi. 

Tes berakhir jam 1 siang dan kami lanjutkan ke riam Dait. Dikarenakan hujan, maka jalan agak tersendat karena dibeberapa tempat menjadi lumpur. Dari simpang Temoyok dapat ditempuh 1 jam ke simpang tiga dan 30 menit dari simpang tiga ke Riam dait, tergantung juga kondisi jalan.
Jangan lupa bila sampai simpang tiga itu, bila kekiri adalah desa Enkitip dan kalau kekanan menuju desa Muara Ilai Sanggau.
            Suasana cukup sepi karena hari biasa dan hujan. Hanya orang-orang yang “kalap” saja mau ke tempat ini dalam suasana hujan. Tiba di lokasi jam 3.20 sore. Cukup mengkhawatirkan, karena kami harus memburu waktu dan harus disiplin supaya tidak terlalu malam pulang. Resiko tinggi.



Terlebih 3 tanjakan sekaligus turunan yang cukup berat plus kondisi jalan yang licin sekali bila kena hujan.
Saat tiba kami ditemani 1 orang penunggu sekaligus pemilik toko yang ada di sekitar lokasi, orang Sekendal bernama Asep.
Karena dingin kami membuat api, masak mie, dan membuat minuman hangat. Misi kami adalah mensosialisasikan kebersihan melalui papan tulisan.
Setelah makan, kami lanjut ke air terjun tingkat 2. Di sana Asep juga membantu kami memasang papan-papan ini. Lega juga karena teman kami ini sepikiran dengan beban kami akan kebersihan tempat ini. Dia mengaku juga terbeban menjaga tempat ini dengan sosialisasi dan membersihkan area secara berkala.






Setelah puas berfoto ria, kami packing dan kembali ke SKM Ngabang. Berpacu dengan waktu yang menunjukkan jam 5 sore. Pulang cukup santai dan tiba di SKM dalam keadaan selamat jam 9 malam.

Terima kasih perlindunganMu Tuhan. Lain waktu kami akan sowan lagi ke sini untuk melihat dan merawat karyaMu.

https://sites.google.com/site/makedoniadventures/